Shalat, zakat dan taubah

Posted: 9th May 2016 by nurhidayat in etika profesi, Islam
Tags: , ,

”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)

Surah At Taubah 11 ini menandaskan pada kita, siapakah saudara seagama kita sebenarnya?

saudara seiman adalah mereka yang mengerjakan shalat dan zakat

shalat merupakan wujud kehambaan kita pada Allah sedangkan zakat adalah wujud kecintaan kita karena Allah sehingga kita dengan penuh keimanan membagikan sebagaian rizki kita pada sesama yang membutuhkan.

kalau ada yang menyatakan Islam tetapi tidak shalat maka jelas ia bukanlah saudara begitu juga mereka yang shalat namun tak mau berzakat padahal mampumaka bukan pula saudara kita

mereka akan menjadi saudara kita jika mereka mau bertaubat atas kelalaiannya dana Allah maha menerima taubat

marilah kita berkuat persaudaraan

Definisi Korupsi

Posted: 9th November 2015 by nurhidayat in etika profesi, korupsi
Tags: , ,

Kata korupsi kini menjadi kata yang cukup sakti.

banyak orang yang takut ketika berhadapan dengan KPK

banyak yang berusaha untuk menggebiri kemampuan KPK karena jika ketahuan akan terkurung dibalik jeruji besi.

Anehnya ketakutan itu tidak diikuti dengan berkurangnya jumlah yang tertangkap.

banyak yang takut tertangkap tapi tidak takut berbuat

ataukah KPK tidak pernah menjelaskan apa itu korupsi?

jangan-jangan kita tiap hari berperilaku korup namun dengan lantang mengatakan bungkam koruptor.

KPK hanya menunjukkan bahwa koruptor adalah yanng merugikan negara dengan besaran tertentu pula, akibatnya kita tidak memahami apa itu korupsi

seakan kalau tidak menjabat di pemerintahan atau berurusan dengan pejabat pemerintah maka kita terhindar dari korupsi

itulah celakanya

mungkinkah kita belajar untuk tidak korupsi?

dari kecil pernahkan kita diajari untu tidak melakukan tindak korupsi, apa bentuknya

dalam kerja benarkah kita tidak korupsi?

andai aku tahu apa itu korupsi…….

Profesi Guru

Posted: 10th January 2014 by nurhidayat in etika profesi
Tags: , ,

Guru sebagai pendidik merupakan tenaga profesional.

Mengacu pada Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 42 ayat (1) bahwa “Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Selanjutnya dengan disahkannya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) pada Desember 2005, profesionalisme guru dan sertifikasi menjadi istilah yang sangat populer dan menjadi topik pembicaraan pada setiap pertemuan, baik di kalangan akademisi, guru maupun masyarakat. Melalui sertifikasi berarti dilakukan upaya standarisasi terhadap mutu pendidik, diharapkan dengan adanya sertifikasi, profesionalisme guru meningkat.

Dalam UUGD Pasal 1. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Tak diragukan lagi guru merupakan suatu pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu.

Siapa saja bisa terampil dalam mengajar kepada orang lain, tetapi hanya mereka yang berbekal pendidikan profesional keguruan yang bisa menegaskan dirinya memiliki pemahaman teoritik dan praktek bidang keahlian kependidikan.

Kualifikasi pendidikan ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal bidang dan jenjang tertentu.

Setujukah anda?

Laniwati Kuestanto

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkanacuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram,ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah
tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk
melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ; “acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep.
Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? Patut dipertanyakan
pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengantantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua
dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran system timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar.
Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.
Kuantitas Satuan Simbol Keterangan Panjang meter m Bukan mtr Luas meter persegi  m2 Isi meter kubik m3 Berat gram g Bukan gr Takaran liter l 1 l = 1.000 cm3 (cc), Suhu derajad Celcius ºC

TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN DI PADANG MAHSYAR

Posted: 26th July 2013 by nurhidayat in Islam
Kultum subuh Ust Ali Wafa Jumat 26/7/2013 (18/9/1434 H)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh Golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yang diizinkan Nya swt, (1) Imam/pemimpin yang Adil, dan (2) pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah pada Tuhannya, dan (3) orang yg hatinya terpaut dengan masjid, dan (4) dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan (5) lelaki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata: ‘Aku takut pada Allah’, dan (6) lelaki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan (7) orang yang ketika dzikir/mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (Shahih Bukhari).

 

  1. Imam yang adil, ialah yang menerapkan hukum secara adil berdasarkan kitabullah, sesuai syariat Allah, tidak dhalim/merugikan orang lain, tidak membeda-bedakan/memilih-milih hukum yang menguntungkan diri/nafsunya. Profil imama seperti itu misalnya Umar bin Khattab, Abu Bakr, atau Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menyuruh isterinya melepas semua perhiasan yang diberi oleh ayahnya (mantan khalifah), belanja kain yang paling murah yang tak lebih baik daripada yang dikenakan rakyatnya. Umar bin Khattab juga demikian. Pernah utusan Raja Persia yang datang ke Madinah terkejut melihat sosok Khalifah Umar, sampai-sampai ada syair yang menggambarkan keadaan itu: Tanpa pengawalan, tidur di bawah pokok kurma, berselimutkan kain burdah yang sudah pudar warnanya. Wahai Umar, kau bisa merasa aman, bisa tidur di mana pun, karena kau terapkan keadilan di antara rakyatmu…
  2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT, melakukan apa yang dicintai oleh Allah.
  3. Orang yg hatinya terpaut dengan masjid. Jadi yang terpaut bukan hanya badannya. Merasa menyesal/rugi kalau tidak ikut berjamaah di masjid. Contohnya (lagi-lagi) Umar, suatu ketika ia sangat menyesal sampai menangis karena tertinggal untuk berjamaah shalat asar di masjid… Contoh lain, Abu Bakr lewat di depan rumah Abdurrahman (anaknya) yang asyik bercanda dengan isterinya padahal sudah ada panggilan adzan. Berkali-kali Abu Bakr menemui hal serupa, sehingga kepada Abdurrahman ia berkata: “Talak isterimu karena ia telah melalaikan kamu untuk shalat di masjid”..
  4. Dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena ketaatan kepada Allah. Bergaul dalam koridor aturan yang dibenarkan syariah. Sebuah nasihat untuk pemuda-pemudi Islam: Ungkapkan cinta kepada orang kamu dambakan jika kamu sudah siap untuk menikah membangun rumah tangga… Bila kau tertarik pada seorang gadis dan kamu siap untuk berumah tangga, segera ajak orang tuamu untuk melamarnya..
  5. Lelaki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik dan kaya namun ia mampu berkata: ‘Aku takut pada Allah’.
  6. Lelaki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, ibaratnya tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu. Tetapi ada kalanya perlu sedekah dengan terang-terangan untuk membangkitkan semangat orang banyak, seperti yang dilakukan Utsman bin Affan ketika di depan Rasulullah menyatakan menyumbang 100 ekor unta untuk mendukung jihad fi sabilillah perang Tabuk..
  7. Orang yang ketika dzikir/mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya, tafakur dan taqarub kepada Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat naungan Allah di Padang Mahsyar kelak di hari kiamat. Insyallah.

Wallahua’lam.

sumber: fb Farid Atmadiwirya

Minta Maaf Sebelum Ramadhan

Posted: 3rd July 2013 by nurhidayat in Islam
Tags: , , ,

Akhir-akhir ini setiap menjelang Ramadhan kita sering mendapat sms atau email bahkan di facebook atau twitter permohonan maaf lahir dan bathin seperti yang kita alami menjelang dan saat lebaran.

Saya pernah mencoba menanyakan ke orang yang mengirimkan ucapan tersebut apakah ada dasarnya. Lalu ada yang bisa menjawab dengan menyebutkan salah satu hadits kemudian saya coba baca haditsnya ternyata ada perubahan kata kata atau perubahan pemaknaan dari hadits tersebut. Hadits palsunya di jaman modern ini yg kemudian banyak dipakai adalah: “Menjelang ramadhan. Jibril pernah berdo’a: Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad bila sebelum masuk Ramadhan tidak memohon maaf pada orang tua, keluarga dan orang-orang sekitarnya. Lalu Rasulullah menjawab amiin, amiin amiin.”

Hadits yang sering digunakan atau disalah artikan tersebut adalah:

Rasulullah SAW menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan “Amiin” begitu pula pada anak tangga yang kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah SAW mengucapkan Amiin”. Beliau lalu bersabda: “Malaikat Jibril datang dan berkata – kecewa dan merugi seseorang yang disebut namamu dan dia tidak mengucapkan shalawat atasmu – lalu aku berucap Amiin. Kemudian malaikat berkata lagi – kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orangtuanya tetapiia tidak bisa sampai masuk surga – lalu aku jawab Amiin. Kemudian katanya lagi – kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya – lalu aku mengucapkan Amiin.” (HR Ahmad).

Ucapan Malaikat yang ketiga yang diamiini oleh Rasulullah SAW inilah yang kemudian digunakan sebagai dasar saling minta maaf seperti halnya lebaran. Bahkan ada yang menambahi dengan saling memaafkan. Saling memaafkan adalah tindakan mulia dan sangat dianjurkan dalam agama.

Diampuni dosa-dosanya dalam Ramadhon merupakan hal yang harus diraih seorang mukmin karena akan diampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “barangsiapa berpuasa Ramadhan  dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari).

Jadi diampuni dosa-dosanya oleh Allah itulah harapan orang yang berpuasa. Sehingga dalam berpuasa dia harus dengan penuh keimanan. Iman menjadi landasan dalam amal perbuatan termasuk puasa sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Ath Thabrani: “Allah tidak menerima iman tanpa perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”.

Oleh sebab itu marilah kita saling memaafkan sesama saudara bukan karena menjelang puasa Ramadhan atau saat lebaran tetapi karena kita memang memiliki kesalahan dan dosa pada sesama. Dan menjelang awal atahu akhir Ramadhan marilah kita kirim ucapan “Semoga puasa Ramadhan kita adalah puasa yang penuh iman dan ridho Allah dan diampuni segala dosa-dosa kita” ini mungkin lebih sesuai sunnah.

Maaf jika ada salah dan tidak sepaham dengan antum semua. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan terang bagi kita semua. Amiin.

OMICS Publishing Group

Posted: 18th April 2013 by nurhidayat in etika profesi
Tags: ,

OMICS Publishing Group is a publisher of approximately 250 open access journals in a number of academic fields. The company’s director is Srinubabu Gedela[1] and it has offices in Los Angeles (United States), Hyderabad (India), and Henderson (Nevada, United States).[2] It is part of the Hyderabad-based OMICS Group,[3] which also has another branch, OMICS Group Conferences, which organizes scientific conferences.[4] The group started its first open-access journal, the Journal of Proteomics & Bioinformatics, in 2008.[5]

Some observers have described the publisher as “predatory”, insofar as authors who have submitted papers have been sent invoices after their manuscripts were accepted for publication despite the lack of a robust peer-review process. One author received an invoice for $2700 after her paper was accepted; this fee was not mentioned in the email message OMICS sent her to solicit a submission.[2] These observations have led critics to assert that the main purpose of the publisher is commercial rather than academic.[6][7] The company director asserts that its activities are legitimate and ethical.[1]

Some academics have been listed for OMICS conferences without their agreement; the company has also been slow to remove the names of editorial board members who requested to terminate their relationship with OMICS activities.[1]

References

  1. ^ a b c Gina Kolata, “Scientific Articles Accepted (Personal Checks, Too)”, New York Times, 8 April 2013
  2. ^ a b Declan Butler, “Investigating journals: The dark side of publishing”, Nature, 27 March 2013
  3. ^ “OMICS Publishing Group :: Contact”. Omicsonline.org. Retrieved 2012-10-03.
  4. ^ “Previous OMICS Group Conferences”. Retrieved 2012-11-20.
  5. ^ Simpson, Richard J. (April 2008). “Editorial”. Journal of Proteomics & Bioinformatics 1 (1): i–ii. Retrieved 20 November 2012.
  6. ^ Stratford, Michael (2012-03-04). “‘Predatory’ Online Journals Lure Scholars Who Are Eager to Publish”. Chronicle.com. Retrieved 2012-10-02.
  7. ^ “The Charleston Advisor Update: Predatory Open-Access Scholarly Publishers”. Charleston.publisher.ingentaconnect.com. 2010-07-01. Retrieved 2012-10-02.

Source: http://en.wikipedia.org/wiki/OMICS_Publishing_Group

 

 

 

Jurnal Preadator

Posted: 3rd April 2013 by nurhidayat in etika profesi
Tags: ,

(Kompas cetak, 2 April 2013)
Jurnal Predator! (Terry Mart)

Belakangan ini, saya sering ditanya tentang jurnal predator. Rupanya orang
mulai meresahkannya.

Istilah jurnal predator pertama kali diajukan Jeffrey Beall, pustakawan
yang bekerja di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Puluhan penerbit
dan ribuan jurnal ia kategorikan sebagai predator. Jurnal predator
diterbitkan oleh penerbit predator dengan tujuan utama bisnis,
menghasilkan uang bagi si pembuat jurnal. Biaya pemuatan per makalah
ratusan hingga ribuan dollar AS. Tidak murah!

Jeffrey Beall saat ini rutin meneliti jurnal predator yang baru muncul dan
bersifat open-access, yaitu jurnal yang hanya tersedia secara online,
tidak ada versi cetak. Kalaupun ada, hanya versi cetak lepas (reprint)
yang tentu saja sangat mudah dicetak dengan printer masa kini.

Skandal ilmiah

Tidak sulit memulai bisnis ini asalkan bisa membangun situs yang menarik
dengan embel-embel foto orang-orang berjas putih, memakai masker putih,
seolah-olah sedang meneliti atau berdiskusi. Lebih meyakinkan lagi jika
situs tadi ditempeli gambar rantai DNA agar terlihat lebih ilmiah.
Ironisnya, bahkan untuk jurnal sosial pun, rantai DNA tetap dipajang.

Dengan menggunakan peranti lunak Open Journal System yang mudah dipasang
dan gratis karena bersifat open source, remaja yang terlatih menggunakan
teknologi informasi bisa mengendalikan aliran makalah yang masuk, proses
penjurian (review), hingga penerbitan makalah secara profesional. Seperti
kata Beall, prinsip pendirian jurnal predator adalah membuat situs,
mengirim e-mail spam ke para ilmuwan, dan setelah itu tinggal berleha-leha
menunggu konsumen datang.

Mungkin masalah terberat jurnal predator adalah mencari penulis makalah,
juri (reviewer), dan dewan editor. Meski demikian, pendiri jurnal predator
tidak kehabisan akal. Mereka mengirimkan e-mail spam ke ilmuwan-ilmuwan
untuk mengisi.

Di negara berkembang, hal ini seperti gayung bersambut karena ilmuwan
negara berkembang sangat membutuhkan aktualisasi diri melalui
jurnal-jurnal dengan “cap internasional”. Semua itu untuk meraih hibah
penelitian atau jabatan yang lebih tinggi meski harus membayar mahal.
Jadilah “simbiosis yang saling menguntungkan”.

Sebenarnya tidak ada masalah jika makalah yang masuk benar-benar diperiksa
juri yang mumpuni, sebidang, dan menggunakan standar ilmiah internasional.
Kenyataannya, hampir semua jurnal ini menjamin makalah pasti diterima asal
membayar. Di sini skandal ilmiah itu dimulai.

Contoh paling jelas adalah makalah hasil copy-paste di bidang pertanian
yang mengatasnamakan penyanyi Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai
penulis makalah di sebuah jurnal predator di Afrika tahun lalu. Tentu
saja, kejadian ini sangat memalukan bagi jurnal tersebut karena jelas
sekali makalah tidak diperiksa oleh juri ahli sebelum diterbitkan. Saat
ini, makalah itu sudah dicabut oleh pemilik jurnal, tetapi Jeffrey Beall
masih menyimpan salinan makalah tersebut di lamannya.

Alamat palsu

Hasil penelitian Beall memperlihatkan, hampir semua jurnal predator
dikendalikan dari India, Pakistan, serta negara-negara di Afrika meski di
situsnya ada alamat surat di Amerika, Kanada, atau Eropa untuk mengelabui
konsumen.

Pada umumnya, jurnal predator bisa ditengarai dari sulitnya menemukan
alamat darat jurnal. Editor jurnal hanya dapat dihubungi melalui e-mail
atau situs internet. Beberapa alamat yang dipajang, bila diperiksa dengan
fasilitas Google Earth, hasilnya akan menunjuk ke alamat apartemen murah,
apotek, atau tempat-tempat yang mustahil berbau ilmiah. Pemilik jurnal
biasanya menyewa alamat kotak surat di Amerika atau Kanada.

Banyak juga jurnal predator yang judulnya dimulai dengan “American Journal
of” atau “Canadian Journal of” semata-mata untuk menunjukkan bahwa jurnal
ini merupakan produk Amerika atau Kanada.

Begitu pesatnya perkembangan jurnal predator membuat penerbit ataupun
jurnal mulai kehabisan nama. Muncul nama-nama penerbit atau jurnal yang
mirip atau malah sama. Bahkan, nama-nama tidak lazim mulai bermunculan,
misalnya ada jurnal yang namanya “sampah”.

Jadi rumit

Masalah jurnal predator ini menjadi rumit karena kontribusi para ilmuwan
(terutama dari negara berkembang) yang secara langsung turut membesarkan
jurnal. Di lamannya, Beall mengajak para ilmuwan dan akademisi untuk
menjauhi jurnal ini dengan cara tidak berkontribusi sebagai penulis
makalah, juri, atau reviewer, serta editor jurnal.

Akibat kontribusi para ilmuwan, beberapa jurnal memiliki faktor dampak
(impact factor/IF) meski IF tertinggi hanya 0,5. Sejumlah jurnal predator
juga sudah diindeks oleh Scopus. Sebagai catatan, IF dipercaya banyak
ilmuwan untuk menggambarkan kualitas jurnal, sedangkan indeks Scopus dalam
skala nasional kita dianggap sebagai stempel jurnal internasional.

Bagi jurnal-jurnal ilmiah nasional yang sudah diakui keilmiahannya melalui
akreditasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, keberadaan jurnal
predator jelas sangat merugikan. Makalah-makalah ilmiah yang potensial
untuk diterbitkan jurnal nasional terserap oleh jurnal predator gara-gara
ada embel-embel internasionalnya. Padahal, dalam banyak hal, jurnal
nasional kita jauh lebih baik dibandingkan jurnal predator.

Ada satu kasus lagi yang direkam laman Beall. Seorang ilmuwan terpaksa
harus menarik kembali makalahnya dari sebuah jurnal predator karena
makalah tersebut terpublikasi juga di jurnal yang jauh lebih bergengsi.
Namun, jurnal predator mengharuskan si penulis makalah membayar “biaya
penarikan”.

Sangat mencengangkan, betapa komersial jurnal tersebut. Untuk memasukkan
harus membayar, dan untuk menarik makalah juga harus membayar. Saya tidak
dapat membayangkan berapa banyak biaya total yang dihabiskan ilmuwan
negara berkembang untuk menarik makalah-makalah yang mereka tulis jika
sekali waktu jurnal sejenis ini dimasukkan dalam daftar hitam pihak
berwenang.

Permasalahan jurnal predator tidak akan begitu kronis jika para ilmuwan
negara berkembang kembali menyadari hakikat makalah ilmiah (Kompas, 21
Februari 2012). Seberkas makalah ilmiah tidak lebih dari laporan hasil
penelitian yang ditulis dalam format tertentu untuk dibaca para peneliti
lain yang mengerti atau berkepentingan dengan hasil penelitian tersebut.

Jurnal komunitas

Saat ini ada puluhan ribu jurnal ilmiah sehingga peneliti harus mencari
jurnal yang visible bagi pembaca targetnya. Jurnal komunitas—mayoritas
komunitas penelitian tertentu memublikasikan hasil penelitian
mereka—merupakan jurnal yang paling tepat untuk tujuan ini.

Di bidang fisika, misalnya, ada jurnal yang diterbitkan American Physical
Society atau European Physical Journal dan merupakan contoh jurnal-jurnal
komunitas yang sangat baik.

Kita sangat yakin bahwa ilmuwan yang baik tidak memerlukan jurnal predator
karena komunitas ilmiahnya sudah memiliki jurnal-jurnal standar komunitas
yang visibilitasnya sangat tinggi di komunitas itu. Meski saya tidak
menampik bahwa IF dapat menggambarkan kualitas jurnal secara kualitatif,
jurnal komunitas akan lebih efektif menyampaikan informasi.

Jurnal predator bisa dikategorikan sebagai jurnal subhat (meragukan)
sehingga sebaiknya kita hindari.

Terry Mart Pengajar Departemen Fisika FMIPA UI

Indahnya Adzan

Posted: 4th March 2013 by nurhidayat in Islam, shalat
Tags:

Bismillahir-Rah maanir-Rahim …

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.

Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.

Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.

Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.

Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.

“Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.

“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.

Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu.

Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.

Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.

Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…

Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir..

Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang.

Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.

Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.

Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.

Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.

Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.

Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.

Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema .. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.

Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.

Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.

Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.

Ia diam.

Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.

Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.

Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.

Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.

Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.

Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.

Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.

Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.

Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.

Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.

Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil .. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.

Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.

Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu bulan?”

Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.

Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?”

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.

Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,

Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:

“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”

Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikanny a selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.

Semua berubah dalam sekejap!

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.

Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.

Nothing Imposible for Allah,

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..

Bumi inipun Milik Allah, ..

Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.

Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Subhanallah…

Seperti itulah buah dari kesabaran.

“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.

Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)

Allahuakbar!

Shalat dan Menabung

Posted: 17th December 2012 by nurhidayat in Islam, shalat
Tags: , , , ,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat muslim yang saya kasihi

Shalat adalah kewajiban yang kita laksanakan tiap hari sebagai wujud keimanan kita pada Allah SWT. Jika baik shalat kita maka baik pula seluruh amal kita. Perintah shalat dalam Al Qur’an jarang berdiri sendiri namun acapkali diikuti dengan indah yang lain, seperti apa yang dapat kit abaca pada firman Allah SWT berikut:

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS Al baqarah 2 – 3)”

Shalat merupakan rukun iman yang utama setelah dua kalimat syahadat. Oleh sebab itu shalat merupakan amalan utama dan sebagai bukti ketaqwaan seseorang. Seorang dikatan bertaqwa kepada Allah apabila ia mendirikan shalat. Seseorang dikatakan bertaqwa apabila ia meyakini bahwa Al Qur’an adalah petunjuk dari Allah dan tidak ada keraguan padanya serta beriman kepada yang ghaib.

Dalam hal ini shalat tidak berdiri sendiri, sebagai bukti kita beriman dan mendirikan shalat maka kita haruslah menafkahkan sebagian rizqi yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Disini nampak bahwa Shalat sebagai wujud taqwa kita kepada Allah akan menjadi benar ketika kita juga bersosialisasi  ke lingkungan. Menafkahkan sebagian rizqi artinya kita peduli pada lingkungan, apakah itu kepada keluarga yang menjadi tanggung jawab kita atapun kepada sekitar kita. Dalam agama kita mengenal adanya zakat, infaq dan shadaqoh.

Seseorang dikatakan medirikan shalat ketika yang bersangkutan melaksanakannya karena ketaqwaannya sehingga melaksanakan dengan sungguh-sungguh sesuai syariat yang diajarkan. Shalat haruslah memenuhi sunnah bukan sesuai keinginan kita. Shalat yang dilaksanakan tanpa ajaran yang benar hanya menunjukkan pembangkangan kita pada ajaran Rasulullah. Oleh sebab itu, agar kita dalam shalat benar-benar sebagai wujud taqwa maka sudh selayaknya kita mempelajari tata cara shalat yang benar yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Apakah kita tahu sumber bacaan kita mulai dari niat hingga salam? Apakah sumber tersebut dari hadits? Ataukah hanya kata Ustadz? Marilah mulaisaat ini kita mencoba mencari sumber yang benar dari setiap gerakan shalat kita.

Shalat dalam ayat ini diiringin dengan menafkahkan rizqi. Ini berarti seseorang yang bertaqwa kepada Allah SWT adalah seorang yang dermawan, seorang yang peduli pada lingkungannya. Seorang tidaklah sempurna taqwanya hanya dengan shalat saja jika ia tidak memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah bagi yang menjadi tanggung jawabnya, tidak peduli pada lingkungannnya. Tidaklah heran jika kadang muncul anekdot “buat apa shalat kalau pelit”. Sungguh itu bukanlah sifat orang yang bertaqwa.

Menafkah sebagian rizqi mengandung makna pula untuk tidak boros. Seseorang yang beriman haruslah menabung. Tabungan dapat digunakan untuk berbagai hal. Tabungan bukanlah upaya menentang takdir tetapi justru memenuhi perintah Allah untuk menafkahkan sebagian rizqi bukan seluruhnya. Dalam hidup, kadangkala ada masa sulit dan ada masa mudah disinilah Allah memberikan solusi agar disaat mudah kita tidak boros dengan cara menyimpan dan pada saat sulit kita tidak menjadi kekurangan dan tetap dapat beramal?

Jadi?

Marilah kita peduli dan selalu beramal dengan tetap berhemat dengan hidup yang wajar tidak berlebih-lebihan sehingga keselarasan hidup akan kita peroleh dan kita akan selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Demikian apa yang menjadi inspirasi bagiku dari ayat yang sering kita baca ini. Mohon maaf jika tulisan ini tidak sesuai dengan tafsir yang semestinya karena ini memang bukan tafsir tetapi mengambil ayat Al Qur’an untuk memotivasi diri agar menjadi insane yang peduli pada sesama.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh

Nur Hidayat