Archive for December, 2011

Al-Awwal, Al-Aakhir, Azh-Zhaabir dan Al-Baatin.


2011
12.29

Nur Hidayat

Firman Allah SWT dalam QS Al Hadiid 2 – 4 yang artinya

Artinya:

2.  Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

3.  Dialah yang Awal dan yang akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya  dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Penjelasan:

Asmaul Husna dalam ayat 3 langsung mencakup empat sifat yaitu yang awal, yang akhir, yang zhahir dan yang bathin. Pemaknaan secara qur’ani. Secara gamblang dua sifat Allah digambarkan oleh ayat sebelumnya dan dua sifat berikutnya digambarkan oleh ayat sesudahnya.

Al Awwal berarti yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, oleh sebab itu pada ayat sebelumnya berbunyi “….. dia menghidupkan ………… “.  Menghidupkan berarti Allah harus ada terlebih dahulu dari apa yang ia hidupkan, sedang Al-Aakhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, maka dalam ayat sebelumnya terdapat penjelasan “ …. Dan mematikan ……….” Mematikan dimaknai Allah SWT akan tetap ada untuk dapat mematikan makhluknya. Karena Allah SWT merupakan Al-Awwal dan Al-Aakhir maka sudah sewajarnya jika  “Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi,…… “ dan untuk itulah kita harus meyakini bahwa “Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu………..

Azh-Zhahir ialah tidak ada sesuatupun di atasnya. Maka pada ayat ke empat terdapat penjelasan “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa….”.  Allah SWT adalah yang Maha Kuasa, yang Awal dan yang Akhir sehingga memiliki kuasa untuk menciptakan langit dan bumi. Dan sebagai wujud dari maha kuasa maka Allah SWT adalah zat yang tidak ada sesuatupun di atasnya yang dinyatakan dalam “Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy…….. “. ‘Arsy secara detil digambarkan dalam ayat kursi. Tempat Allah bersemayam dan tempat yang paling tinggi, dan Allah SWT ada di atasnya.

Selain Allah bersifat Azh-zhahir juga seakan ada kebalikannya seperti awal dan akhir yaitu al-bathin yaitu yang tidak ada sesuatupun yang menghalanginya. Hal ini menunjukkan Allah dapat mengetahui segala sesuatu karena tak ada sesuatu yang mampu menghalanginya yang secara gamblang digambarkan sebagai : “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya  dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada….”. Oleh sebab itu untuk lebih menjadikan kita meyakini akan sifat Allah ini ayat ke empat ditutup dengan menggunakan sifat Allah SWT dengan kalimat “…. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”, setelah sebelumnya pada ayat dua ditutup dengan “ ……… dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”.

Pemaknaan disini juga dapat dilihat dari sisi sifat Allah SWT lainnya yang menyertai yaitu Yang Maha Kuasauntuk mempertegas sifat Allah yang mencakup al-awwal, al-akhir, dan azh-zhahir sedang al-bathin dijelaskan dengan sifat Allah yang menyertainya yaitu Maha Mengetahui dan Maha Melihat

Semoga penjelasan Asmaul Husna berdasar ayat yang menyertainya ini mampu meningkatkan keimanan kita. amiin ya Robbal alamiin. Mohon maaf jika ada kekurangan dalam pemahaman.

mohon maaf jika ada khilaf karena saya bukanlah ahli agama tapi mencoba memahami dengan membaca ayat-ayat yang terkait saja tidak lebih.

buat para ulama afwan atas kesalahan yang mungkin ana perbuat, semoga tetap ada pintu untuk memahami wahyu ilahi

wassalam

Do’a bangun tidur


2011
12.26

bangun tidur adalah keadaan kita untuk siap beraktivitas, maka sudah selayaknyalah kita mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT sehingga kita dibangunkan dari kelelapan menuju ke jiwa yang segar

  1. “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami kembali (HR. Bukhari Muslim).
  2. ”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan dalam tubuhku, mengembalikan ruhku serta memperkenankan diriku untuk  selalu mengingat-Nya. (HR. Turmidzi)

Ibu dalam Hadits


2011
12.22

Al Qur’an

  1. Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Al Hadits

  1. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).
  2.  Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).
  3. Keselamatan atasmu, serta rahmah dan barakah Allah, wahai Ibunda!” Ibunya pun menjawab, “Dan keselamatan pula atasmu, serta rahmah dan barakah Allah.” Dia berkata lagi, “Semoga Allah mengasihimu, wahai Ibu, sebagaimana engkau telah mendidikku semasa kecilku.” Ibunya membalas, “Wahai anakku! Dan engkau juga, semoga Allah memberi balasan yang baik dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku pada masa tuaku.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani: hasanul isnad dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 11)

Hadits Menuntut Ilmu


2011
12.21
  1. Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga. (HR. Muslim)
  2. Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
  3. Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )
  4. Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)
  5. Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
  6. Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.” (Bukhari)
  7. Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

Terjebak Tahun baru……….


2011
12.18

Nur Hidayat

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

lalu apa yang sering menjebak kita di tahun baru?

  1. Mengikuti orang2 untuk merayakan, bahkan ada yang dengan dzikir bersama sampai jelang pagi, padahal tak ada tuntunan dalam hal ini. lebih baik tidur agar dapat shalat malam
  2. Ikut pawai akhirnya terlewatkan waktu shalat terutama waktu subuh
  3. Merayakat seperti kaum penyembah dewa api yaitu brsuka cita ketika kembang apimenyala seakan itulah Tuhannya
  4. Menyia-nyiakan waktu di depan TV untuk melihat hiburan dan kegembiraan hingga lupa shalat malam
  5. pesta pora dengan makan-makan dan sendau gurau yang kadang berkata-kata yg tidak semestinya
semoga kita mampu menyikapi tahun baru dengan lebih baik

Hello world!


2011
12.18

Selamat Datang di Universitas Brawijaya. Ini adalah posting pertamaku