Archive for February, 2012

Pengantar Etika Profesi


2012
02.20

Secara etimologi kata etika berasal dari bahasa Yunani yang dalam bentuk tunggal yaitu ethos dan dalam bentuk jamak yaitu ta etha. Ethos yang berarti sikap, cara berpikir,watak kesusilaan atau adat. Kata ini identik dengan perkataan moral yang berasal bahasa latin mos yang dalam bentuk jamaknya mores yang berarti adat atau cara hidup. Kata mores mempunyai sinonim mos, moris, manner, mores,dan  moral. Dalam bahasa Indonesia kata moral berarti  akhlak atau kesusilaan yang mwngandung makna tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Etika dan moral memiliki arti yang sama, namun dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral biasanya dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai/dikaji (dengan kata lain perbuatan itu dilihat dari dalam diri orang itu sendiri), artinya moral disini merupakan subyek, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada dalam kelompok atau masyarakat tertentu (merupakan aktivitas atau hasil pengujian).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah etika diartikan sebagai:

  1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tenatng hak dan kewajiban moral
  2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
  3. Nilai mengenai benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.

 

Etika merupakan cabang filsafat yang mencari ukuran baik buruknya bagi tingkah laku manusia. Etika hendak mencari, tindakan manusia yang manakah yang baik. Etika berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuan yang terkait dengan manusia dn masyarakat seperti: anthropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, hokum, kedokteran, peternakan dan sebagainya. Etika berpengaruh terhadap kewajiban moral, tanggung jawab, dan keadilan social.Etika menjelaskan stnadar dan norma perilaku tanggung jawab masyarakat, kemudian diinternalkan kepada masing-masing anggota organisasi tersebut.

Dalam teori etika terdapat beberapa teori yaitu etika deontology, etika teleology, etika hak dan etika keutamaan.

  1. Etika Deontologi. Istilah deontology berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban atau sesuai dengan prosedur dan logosyang berarti ilmu atau teori. Menurut teori ini beberapa prinsip moral itu bersifat mengikat betatapun akibatnya. Etika ini menekankan kewajiban manusia untuk untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendirisebagai baik pada dirinya sendiri. Atau dengan kata lain tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Teori ini menekankan kewajiban sebagai tolak ukur bagi penilaian baik atau buruknya perbuatan manusia, dengan mengabaikan dorongan lain seperti rasa cinta atau belas kasihan. Terdapat tiga kemungkinan seseorang memenuhi kewajiban yaitu:
    1. Karena nama baik
    2. Karena dorongan tulus dari hati nurani
    3. Memenuhi kewajibannya

Deontologi menetapkan aturan, prinsip dan hak berdasarkan pada agama, tradisi, adat istiadat yang berlaku. Yang menjadi tantangan dalam menetapkan deontological adalah menentukan yang mana tugas, kewajiban, hak, maupun prinsip yang didahulukan. Teori ini berpijak pada norma-norma moral konkret yang harus diatati, namun belum tentu mengikat untuk kondisi yang bersifat khusus. Contohnya seseorang boleh saja merampok kalau hasil rampokannya dipakai untuk member makan orang yang terkena musibah.

  1. Etika Teleologi. Teleology berasal dari kata Yunani telos yang berarti tujuan, sasaran atau hasil dan logosi berarti ilmu atau teori. Etika ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan konsekuensi yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau kalau konsekuensi yang ditimbulkannya baik dan berguna. Bila kita akan memutuskan apa yang benar, kita tidak hanya melihat konsekuensi keputusan tersebut dari sudut pandang kepentingan kita sendiri. Tantangan yang sering dihadapi dalampenggunaan teori ini adalah bila kita dapat kesulitan dalam mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan dalam mengevaluasi semua kemungkinan dari keputusan yang diambil.
  2. Etika Hak. Etika Hak memberi kepada pelaku untuk mengevaluasi apakah tindakan, perbuatan, dan kebajikannya telah tergolong baik atau buruk dengan menggunakan kaidah hak seseorang. Hak seseorang sebagai manusia tidak dapat dikorbankan oleh orang lain apapun statusnya. Hak manusia adalah hak yang dianggap melekat pada setiap mansia, sebab berkaitan dengan realitas hidup manusia sendiri. Etika hak kadangkala dinamakan “hak manusia” sebab manusia berdasarkan etika harus dinilai menurut martabatnya. Etika hak mempunyai sifat dasar dan asasi (human rights), sehingga etika hak tersebut merupakan hak yang:
    1. Tidak dapat dicabut atau direbut karena sudah ada sejak manusia itu ada
    2. Tidak tergantung dari persetujuan orang
    3. Merupakan bagian dari eksistensi manusiadi dunia
    4. Etika Keutamaan. Etika ini tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan, tidak mendasarkan penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal seperti teori sebelumnya. Etika ini lebih mengutamakan pembangunan karakter moral pada diri setiap orang. Nilai moral bukan muncul dalam bentuk adanya aturan berupa larangan atau perintah, namun dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktekkan oleh tokoh-tokoh tertentu dalam masyarakat. Didalam etika karakter lebih banyak dibentuk oleh komunitasnya. Pendekatan ini terutama berguna dalam menentukan etika individu yang bekerja dalam sebuah komunitas professional yang telah mengembangkan norma dan standar yang cukup baik. Keuntungan teori ini adalah para pengambil keputusan dapat dengan mudah mencocokkan dengan standar etika komunitas tertentu untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah tanpa ia harus menentukan criteria terlebih dahulu (dengan asumsi telah ada kode perilaku).

 

Pustaka:

Ernawan, E.R. 2011. Business Ethics. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Antara Dusta dan Kebenaran


2012
02.01

Nur Hidayat

Akhir-akhir ini masyarakat dibikin bingung dengan berita-berita yang sangat menyita perhatian dari masyarakat bawah hingga petinggi-petinggi Negara. Seolah negeri ini disibukkan oleh fenomena mencari kebenaran. Kebenaran seakan sesuatu yang hilang. Manusia sibuk mencari siapakan yang benar. Kebenarana mestinya memang ada dalam diri kita sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta, dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong).” (HR Bukhari).

Merujuk pada hadits di atas maka, keributan yang selama ini terjadi tentulah disebabkan adanya kedustaan di salah satu pihak. Sebagai contoh bagaimana seorang saksi mencabut BAP yang telah dibuat dan kemudian mengemukakan fakta baru. Fakta baru ini kemudian dibantah oleh pejabat yang berwenang. Siapakah yang melakukan kedustaan?

Ada seorang yang diduga terlibat dalam penggunaan uang yang tidak semestinya. ybs menyangkal bahkan membawa-bawa nama agama namun ketika merasa posisi semakin terdesak dan terbongkar, ybs pergi dan meninggalkan permasalahan dengan tetap menyangkal segala tuduhan.

Rasulullah SAW bersabda: “Tanda-tanda oran munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat.” (HR Muslim).

Dalam pembicaraan di persidangan ada sesuatu yang menarik yang dikemukakan oleh saksi. Dia diminta untuk berdusta (mengatakan sesuatu yang tidak dilakukan terdakwa), karena dia diberi janji namun kemudian ia merasa dikhianati.

Adakah pengkhianatan? Siapakah yang berkhianat? Andai mereka tahu apa yang disabdakana Rasulullah SAW: “suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Dari kisah yang sedang terjadi selama ini kita akan disuguhi sesuatu yang bagus tentunya yaitu semakin mengetahui cirri-ciri orang munafik. Akankah terungkap siapa yang munafik? Ataukah justru tertutupi oleh kekuatan sehingga kita makin dibutakan?

Semoga negeri ini kembali memperoleh rahmat Allah dengan pemimpin-pemimpin yang amanah.

Amiin.