Archive for April, 2012

Etika Bisnis dan tanggung Jawab Sosial


2012
04.25

Etika adalah aturan yang membantu kita membedakan antara benar dan salah. Mereka mendorong kita untuk melakukan hal yang benar.

Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan etika-individu kepercayaan dan standar sosial tentang apa yang benar dan baik.

Etika bisnis didasarkan pada etika masyarakat dan orang-orang yang bekerja untuk dan membeli dari mereka.

Sebuah dilema etis adalah masalah moral dengan pilihan antara potensi benar dan salah. Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan adalah:

§ Siapa yang akan dibantu oleh apa yang Anda lakukan?
§ Siapa yang akan terluka oleh apa yang Anda lakukan?
§ Apa manfaat dan masalah keputusan seperti itu?
§ Apakah keputusan tersebut bertahan dalam waktu tertentu?
Apa Yang Terjadi Ketika Orang Berperilaku Tidak Etis?
Ketika seorang individu bertindak tidak etis, perilakunya kemungkinan besar akan merugikan orang lain. Individu juga bisa dikirim ke penjara karena nya atau tindakannya. Masalah etika utama meliputi penipuan, skandal akuntansi, dsb
Skandal Akuntansi
Sebuah skandal akuntansi terjadi ketika akuntan atau eksekutif senior mengubah catatan akuntansi untuk keuntungan pribadi.

Informasi akuntansi digunakan di dalam dan luar bisnis untuk membuat keputusan. Ketika penyimpangan akuntansi yang terungkap, seorang akuntan forensik menyelidiki dokumen hukum dan keuangan untuk menemukan adanya bukti perusakan.

Penggelapan, sejenis penipuan akuntansi, yang terjadi ketika seorang akuntan atau eksekutif senior menciptakan account palsu dan pengalihan uang ke mereka untuk keuntungan pribadi.

Corporate Social Responsibility

Sebuah bisnis menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan (CRS) melalui nilai-nilai, etika, dan kontribusi itu untuk masyarakat. CRS didorong oleh keinginan untuk melindungi para pelanggan dan memperlakukan karyawan serta pemegang saham.

CSR Principles

Prinsip CSR mendukung para karyawan dan konsumen dengan:

•menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat
•kebijakan tenaga kerja yang adil
•Perlindungan lingkungan
•jujur ​​dalam iklan
•menghindari diskriminasi harga
•amal

Antidiscrimination Issues

Diskriminasi,  menyangkal/menyingkirkan individu yang berkualitas berdasarkan agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau cacat fisik.

Diskriminasi gender memperlakukan karyawan secara berbeda berdasarkan jenis kelamin mereka (laki-laki atau perempuan).

Gangguan

Banyak perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur untuk menangani pelecehan: perilaku yang mengancam, mengganggu, atau membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Fair Trade

Perdagangan yang adil merupakan praktek sukarela untuk membantu produsen di negara berkembang memotong tengkulak mahal sehingga mereka dapat menjual barang mereka di negara lain untuk keuntungan yang adil.

perdagangan yang adil dimulai dengan kemitraan antara petani di negara-negara berkembang dan organisasi bantuan (bottom up) untuk membantu mereka menjangkau pasar di Eropa dan Amerika Utara (top down).

Perdagangan Etis berarti menggunakan perdagangan untuk memastikan bahwa hak-hak dasar buruh karyawan di negara lain dihormati.

Al Qur’an adalah petunjuk bagi yang bertaqwa


2012
04.13

Selama ini kita selalu mengatakan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia baik yang beriman ataupun yang tidak. Hal ini sering dikaitkan oleh keyakinan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang dibawa oleh Nabi akhir Jaman yaitu Rasulullah SAW. Benarkah demikian?

Dalam Al Qur’an mungkin kita menemukan banyak penjelasan dan saya juga bukan ahli tafsir. Hanya saya akan lebih memfokuskan pengertian awal yaitu sebagaimana tertera dalam Al Qur’an Al Baqarah ayat 2: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Disini kita sebagai umat Islam sudah semestinya tidak ragu sedikitpun terhadap kandungan Al Qur’an dan menjadikannya sebagi petunjuk. Sayangnya kadang kita lebih sering menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan atau hafalan untuk memperoleh pahala dan bukan menjadikannya petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita banyak mengandalkan kemampuan diri atau bantuan orang lain. Kita lebih kagum pada kata-kata para motivator dibandingkan dengan apa yang teedapat dalama Al Qur’an. Dan hanya orang – orang yang bertakwalah yang menggunakan Al Qur’an sebagai petunjuk. Siapa orang yang bertakwa itu? Al Qur’an menyebutkan dalam banyak ayat. Namun setidaknya dapat kita lihat di ayat berikutnya: (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Al Baqarah:3) .

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib. Suatu halyang sering diabaikan oleh orang-orang yang merasa dirinya adalah orang berpengetahuan atau sering menyebut dirinya orang cerdik pandai. Allah adalah hal yang gaib begitu juga dengan apa yang ditakdirkan kepada kita. Hanya mereka yang menggunakan hatinya yang mampu mendalami dan meyakini bahwa apa yang ada adalah bagian dari hal yang gaib. Ini memiliki implikasi bahwa orang yang bertakwa selalu penuh harap dan do’a. ia tidakmenjadi sombong terhadap apa yang ia peroleh karena ia yakin semua adalah atas kehenda-Nya. Oleh sebab itu sangatlah wajar kalau cirri orang beriman yang kedua adalah mereka yang mendirikan shalat.

Orang mukmin yang mendirikan shalat pada hakekatnya adalah mereka yang mempercayai hal yang gaib dan menjadikan Al Qur’an sebagi petunjuknya. Mendirikan shalat hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar yakin. Mereka tidak sekedar menjalankan ibadah shalat semata tapi menjadikan shalat sebagai langkah hidupnya. Ia benar-benar melangkah dari apa yang ia do’akan dalam shalat atau sesudahnya kemudian melakukan kehidupan. Ia menyempurnakan shalatnya dengan shalat sunah. Sehingga alangkah anehnya jika kita menyebut diri sebagai orang bertakwa tapi lalai dalam shalat termasuk shalat sunah di dalamnya. Hanya orang-orangyang berimanlah yang mampu melakukan shalat sunah. Banyak dari kita tidak melaksanakan shalat sunah dengan anggapan itukan bukan wajib jadi kita tidak harus melaksanakan. Sama dengan ketika ditegur bahwa merokok itu tidak baik, maka ia bilang kan merokok itu makruh kenapa saya harus meninggalkan kan bukan haram?

Tingkatan kita dalam bertakwa menunjukkan sejauh mana kita melaksanakan yang sunah dan meninggalkan yang makruh. Tingkat yang rendah adalah yang hanya menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram dengan tidak melaksanakan yang sunah. Semoga kita tidak lebih rendah dari itu.

Setelah ada kesadaran bathin sehingga mampu mendirikan shalat maka langkah tersebut akan dicerminkan dalam keikhlasan dalam bersedekah dari rizki yang kita terima. Rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya menjadikan kita suka bersedekah karena kita yakin semua adalah dari Allah dan dalam harta kita ada bagian dari orang miskin. Itulah bukti kita sebagai insan yang bertakwa.

Maaf bila ada yang tidak berkenan dan sekali lagi ini bukanlah tafsir tapi pencerahan diri untuk menjadi lebih baik dengan memahami dan mengamalkan ayat-ayat dari Allah SWT yang tertulis dalam Al Qur’an.

wassalam