Bagian II – Ihram dan Tawaf

Posted: 24th July 2012 by nurhidayat in haji, Islam
Tags: , , , , ,

Uswatun Hasanah

HIKMAH II

IHRAM

Simbol Kesucian dan Kesetaraan

Kata ihram diambil dari bahasa Arab, yaitu “al-haram“, yang bermakna terlarang atau tercegah. Dinamakan “ihram” karena dengan berniat masuk kedalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, seseorang dilarang  melakukan beberapa hal ( seperti: menebang pepohonan, membunuh binatang, memotong kuku, menikah/menikahkan (melamar), bercumbu, berbicara kotor/ tak senonoh, bertengkar/ berbantah-bantahan untuk hal yang tidak perlu dan mencaci maki.

Mengenakan pakaian Ihram dilakukan di tempat miqat dan merupakan tanda ibadah Haji atau Umrah dimulai dan pengucapan niat dilakukan. Berbeda dengan niat ibadah yang lain seperti sholat dan puasa yang dilakukan dalam hati maka niat ihram (haji/umrah) diucapkan atau diikrarkan. Pada saat ini pula talbiyah diucapkan dengan Lafaz : Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk Laa syariika laka. artinya : Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,Ya Allah aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu. Tidak ada sekutu bagiMu

Ihram merupakan pakaian wajib kaum muslimin yang hendak melaksanakan Ibadah haji maupun Umrah. Pakaian Ihram adalah pakaian putih yang disebut juga pakaian suci, pakaian ini tidak boleh dijahit. Cara pemakaiannya dililitkan kesekeliling tubuh (jama’ah pria). Bagi wanita pakaian ihram lebih bebas tetapi disunatkan yang berwarna putih, yang penting menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.

Pengucapan niat dan talbiyah dengan pakaian ihram dalam ibadah haji ini mengisyaratkan komitmen terbuka dan berikrar memenuhi panggilan Allah dalam kesucian dan kesetaraan. Betapa agungnya sang Pencipta dalam mendidik dan memuliakan makhlukNya. Kita dididik bahwa dalam perjalanan hidup dalam rangka memenuhi panggilaNnya senantiasa berkomitmen mensucikan diri dari perbuatan terlarang.

Bila kita simak bacaan talbiyah yang menggetarkan hati ketika kita melafalkannya, mengisyaratkan makna komitmen terbuka yang sangat kuat untuk mengarahkan dan mengabdikan hidup ini semata-mata untukNya sang Maha Pengasih dan Penyayang. Dalam suasana hati yang bersih dan kesetaraan dengan sesama maka tidak ada yang pantas untuk dipuji dan diagungkan kecuali Dia pemilik karajaan langit dan bumi dan berkomitmen pula untuk tidak menyekutukanNya dengan apapun. Sungguh luar biasa jika kondisi ini diproyeksikan dan diwujudkan dalam keseharian kita. Kalimat talbiyah yang dikumandangkan berkali-kali selama berihram, semestinya mampu membangun akhlak setiap diri yang pernah haji atau umrah. Akhlak yang terbentuk bukan hanya menyangkut hubungan spiritual dengan sang Pencipta tapi juga dalam hubungan dengan sesama makhluk meliputi sikap terhadap sesama manusia, sikap terhadap binatang dan tanaman yang secara eksplisit  tersirat dalam larangan-larangan dalam ihram. Akhlak terhadap sesama manusia jelas ditegaskan yaitu disamping kesetaraan yang menjauhkan diri dari sikap sombong juga keharusan mengendalikan nafsu, dilarang berkata kasar, berbantah-bantahan yang tidak perlu  (bertengkar) dan berkata jorok (tidak senonoh). Betapa indahnya hidup ini jika ‘kondisi’ berihram ini dapat tercipta setiap saat.

HIKMAH III

TAWAF

Lingkaran Ilahi

 

Setelah berihram dari miqat, berangkatlah menuju Masjidil  Haram Mekah untuk mekaksanakan materi workshop berikutnya yaitu TAWAF. Dalam pengertian umum ‘Ibadah Tawaf’ adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dimulai dan berakhir di arah garis lurus dengan Hajar Aswad ( tempat batu hitam ) dengan posisi Baitullah disebelah kiri.

Tata cara pelaksanaan tawaf adalah sebagai berikut : berniat akan melakukan tawaf, lalu menuju ke garis coklat (sekarang diganti lampu hijau) tanda batas putaran tawaf yang letaknya searah Hajar Aswad. Menghadap ke Ka’bah dan ber-Istilam (mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad) dan memberi isyarat mengecupnya, sambil mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar.

Pelaksanaan TAWAF merupakan pelajaran penting dari sang Khalik kepada makhlukNya yaitu seolah ditunjukkan Sunnatullah atau hukum yang diberlakukanNya terhadap alam jagad raya, mulai partikel elementer level elektron sampai makrokosmos  level planet semua beredar berputar pada garis orbitnya. Bila kita simak tata cara pelaksanaan tawaf yang diawali dan diakhiri dengan menghadap ke Ka’bah dan mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad serta memberi isyarat mengecupnya, sambil mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar, mengisyaratkan bahwa kita lahir ke dunia berasal dariNya dan berakhir kembali kepadaNya  dan dalam rentang awal hingga akhir kehidupan, Allah SWT menggambarkan hubungan mesra penuh cinta kasih antara makhluk dan sang Khalik dengan 7x ber-Istilam(mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad) dan memberi isyarat mengecupnya. Sungguh menakjubkan dan betapa indahnya, sejatinya kita hidup di dunia ini dimanapun kita berada dalam keadaan bertawaf karena semua partikel yang ada dalam tubuh kita bahkan bumi yang kita pijakpun  dalam keadaan bertawaf.

Ketika melakukan umrah wajib/haji, tawaf dilakukan dalam keadaan berihram sehingga larangan –larangan saat berihram tetap berlaku ketika tawaf. Saat tawaf banyak tantangan yang dihadapi, karena pada saat yang sama umat dari berbagai penjuru dunia melakukan hal yang sama sehingga diperlukan strategi, kesabaran dan kearifan agar dapat dilakukan dengan lancar. Strateginya adalah mengikuti arus yang benar tanpa memaksakan diri, mengisi peluang tempat kosong yang ada tanpa menyikut atau pun mendorong atau dengan kata lain tidak boleh egois. Bila kondisi ini diproyeksikan kedalam kehidupan keseharian kita,  betapa indahnya hidup ini karena  akhlak yang terbentuk dari orang-orang yang merasa bertawaf dan berihram serta terjaganya kemesraan cinta kasih bersama sang Khalik setiap saat. MaasyaAllah, hal ini perlu diikhtiarkan terus menerus  setiap saat. Semoga Allah SWT melimpahkan rakhmat bagi kita semua yang berikhtiar selalu dijalanNya. Amin.

  1. Para pembaca, sebagaimana disebutkan dalam bahasan yang lalu bahwa ibadah haji ada tiga jenis; Tamattu’, Qiran, dan Ifrad. Bagi penduduk Indonesia, haji yang afdhal adalah haji Tamattu’. Hal itu dikarenakan mayoritas mereka tidak ada yang berangkat haji dengan membawa hewan kurban. Walhamdulillah, selama ini mayoritas jamaah haji Indonesia berhaji dengan jenis haji tersebut. Maka dari itu akan sangat tepat bila kajian kali ini lebih difokuskan pada tatacara menunaikan haji Tamattu’.

CAPTCHA Image
*