Archive for July, 2013

TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN DI PADANG MAHSYAR


2013
07.26
Kultum subuh Ust Ali Wafa Jumat 26/7/2013 (18/9/1434 H)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh Golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yang diizinkan Nya swt, (1) Imam/pemimpin yang Adil, dan (2) pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah pada Tuhannya, dan (3) orang yg hatinya terpaut dengan masjid, dan (4) dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan (5) lelaki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata: ‘Aku takut pada Allah’, dan (6) lelaki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan (7) orang yang ketika dzikir/mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (Shahih Bukhari).

 

  1. Imam yang adil, ialah yang menerapkan hukum secara adil berdasarkan kitabullah, sesuai syariat Allah, tidak dhalim/merugikan orang lain, tidak membeda-bedakan/memilih-milih hukum yang menguntungkan diri/nafsunya. Profil imama seperti itu misalnya Umar bin Khattab, Abu Bakr, atau Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menyuruh isterinya melepas semua perhiasan yang diberi oleh ayahnya (mantan khalifah), belanja kain yang paling murah yang tak lebih baik daripada yang dikenakan rakyatnya. Umar bin Khattab juga demikian. Pernah utusan Raja Persia yang datang ke Madinah terkejut melihat sosok Khalifah Umar, sampai-sampai ada syair yang menggambarkan keadaan itu: Tanpa pengawalan, tidur di bawah pokok kurma, berselimutkan kain burdah yang sudah pudar warnanya. Wahai Umar, kau bisa merasa aman, bisa tidur di mana pun, karena kau terapkan keadilan di antara rakyatmu…
  2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT, melakukan apa yang dicintai oleh Allah.
  3. Orang yg hatinya terpaut dengan masjid. Jadi yang terpaut bukan hanya badannya. Merasa menyesal/rugi kalau tidak ikut berjamaah di masjid. Contohnya (lagi-lagi) Umar, suatu ketika ia sangat menyesal sampai menangis karena tertinggal untuk berjamaah shalat asar di masjid… Contoh lain, Abu Bakr lewat di depan rumah Abdurrahman (anaknya) yang asyik bercanda dengan isterinya padahal sudah ada panggilan adzan. Berkali-kali Abu Bakr menemui hal serupa, sehingga kepada Abdurrahman ia berkata: “Talak isterimu karena ia telah melalaikan kamu untuk shalat di masjid”..
  4. Dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena ketaatan kepada Allah. Bergaul dalam koridor aturan yang dibenarkan syariah. Sebuah nasihat untuk pemuda-pemudi Islam: Ungkapkan cinta kepada orang kamu dambakan jika kamu sudah siap untuk menikah membangun rumah tangga… Bila kau tertarik pada seorang gadis dan kamu siap untuk berumah tangga, segera ajak orang tuamu untuk melamarnya..
  5. Lelaki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik dan kaya namun ia mampu berkata: ‘Aku takut pada Allah’.
  6. Lelaki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, ibaratnya tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu. Tetapi ada kalanya perlu sedekah dengan terang-terangan untuk membangkitkan semangat orang banyak, seperti yang dilakukan Utsman bin Affan ketika di depan Rasulullah menyatakan menyumbang 100 ekor unta untuk mendukung jihad fi sabilillah perang Tabuk..
  7. Orang yang ketika dzikir/mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya, tafakur dan taqarub kepada Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat naungan Allah di Padang Mahsyar kelak di hari kiamat. Insyallah.

Wallahua’lam.

sumber: fb Farid Atmadiwirya

Minta Maaf Sebelum Ramadhan


2013
07.03

Akhir-akhir ini setiap menjelang Ramadhan kita sering mendapat sms atau email bahkan di facebook atau twitter permohonan maaf lahir dan bathin seperti yang kita alami menjelang dan saat lebaran.

Saya pernah mencoba menanyakan ke orang yang mengirimkan ucapan tersebut apakah ada dasarnya. Lalu ada yang bisa menjawab dengan menyebutkan salah satu hadits kemudian saya coba baca haditsnya ternyata ada perubahan kata kata atau perubahan pemaknaan dari hadits tersebut. Hadits palsunya di jaman modern ini yg kemudian banyak dipakai adalah: “Menjelang ramadhan. Jibril pernah berdo’a: Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad bila sebelum masuk Ramadhan tidak memohon maaf pada orang tua, keluarga dan orang-orang sekitarnya. Lalu Rasulullah menjawab amiin, amiin amiin.”

Hadits yang sering digunakan atau disalah artikan tersebut adalah:

Rasulullah SAW menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan “Amiin” begitu pula pada anak tangga yang kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah SAW mengucapkan Amiin”. Beliau lalu bersabda: “Malaikat Jibril datang dan berkata – kecewa dan merugi seseorang yang disebut namamu dan dia tidak mengucapkan shalawat atasmu – lalu aku berucap Amiin. Kemudian malaikat berkata lagi – kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orangtuanya tetapiia tidak bisa sampai masuk surga – lalu aku jawab Amiin. Kemudian katanya lagi – kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya – lalu aku mengucapkan Amiin.” (HR Ahmad).

Ucapan Malaikat yang ketiga yang diamiini oleh Rasulullah SAW inilah yang kemudian digunakan sebagai dasar saling minta maaf seperti halnya lebaran. Bahkan ada yang menambahi dengan saling memaafkan. Saling memaafkan adalah tindakan mulia dan sangat dianjurkan dalam agama.

Diampuni dosa-dosanya dalam Ramadhon merupakan hal yang harus diraih seorang mukmin karena akan diampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “barangsiapa berpuasa Ramadhan  dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari).

Jadi diampuni dosa-dosanya oleh Allah itulah harapan orang yang berpuasa. Sehingga dalam berpuasa dia harus dengan penuh keimanan. Iman menjadi landasan dalam amal perbuatan termasuk puasa sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Ath Thabrani: “Allah tidak menerima iman tanpa perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”.

Oleh sebab itu marilah kita saling memaafkan sesama saudara bukan karena menjelang puasa Ramadhan atau saat lebaran tetapi karena kita memang memiliki kesalahan dan dosa pada sesama. Dan menjelang awal atahu akhir Ramadhan marilah kita kirim ucapan “Semoga puasa Ramadhan kita adalah puasa yang penuh iman dan ridho Allah dan diampuni segala dosa-dosa kita” ini mungkin lebih sesuai sunnah.

Maaf jika ada salah dan tidak sepaham dengan antum semua. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan terang bagi kita semua. Amiin.