Archive for the ‘etika profesi’ Category

Shalat, zakat dan taubah


2016
05.09

”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)

Surah At Taubah 11 ini menandaskan pada kita, siapakah saudara seagama kita sebenarnya?

saudara seiman adalah mereka yang mengerjakan shalat dan zakat

shalat merupakan wujud kehambaan kita pada Allah sedangkan zakat adalah wujud kecintaan kita karena Allah sehingga kita dengan penuh keimanan membagikan sebagaian rizki kita pada sesama yang membutuhkan.

kalau ada yang menyatakan Islam tetapi tidak shalat maka jelas ia bukanlah saudara begitu juga mereka yang shalat namun tak mau berzakat padahal mampumaka bukan pula saudara kita

mereka akan menjadi saudara kita jika mereka mau bertaubat atas kelalaiannya dana Allah maha menerima taubat

marilah kita berkuat persaudaraan

Definisi Korupsi


2015
11.09

Kata korupsi kini menjadi kata yang cukup sakti.

banyak orang yang takut ketika berhadapan dengan KPK

banyak yang berusaha untuk menggebiri kemampuan KPK karena jika ketahuan akan terkurung dibalik jeruji besi.

Anehnya ketakutan itu tidak diikuti dengan berkurangnya jumlah yang tertangkap.

banyak yang takut tertangkap tapi tidak takut berbuat

ataukah KPK tidak pernah menjelaskan apa itu korupsi?

jangan-jangan kita tiap hari berperilaku korup namun dengan lantang mengatakan bungkam koruptor.

KPK hanya menunjukkan bahwa koruptor adalah yanng merugikan negara dengan besaran tertentu pula, akibatnya kita tidak memahami apa itu korupsi

seakan kalau tidak menjabat di pemerintahan atau berurusan dengan pejabat pemerintah maka kita terhindar dari korupsi

itulah celakanya

mungkinkah kita belajar untuk tidak korupsi?

dari kecil pernahkan kita diajari untu tidak melakukan tindak korupsi, apa bentuknya

dalam kerja benarkah kita tidak korupsi?

andai aku tahu apa itu korupsi…….

Profesi Guru


2014
01.10

Guru sebagai pendidik merupakan tenaga profesional.

Mengacu pada Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 42 ayat (1) bahwa “Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Selanjutnya dengan disahkannya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) pada Desember 2005, profesionalisme guru dan sertifikasi menjadi istilah yang sangat populer dan menjadi topik pembicaraan pada setiap pertemuan, baik di kalangan akademisi, guru maupun masyarakat. Melalui sertifikasi berarti dilakukan upaya standarisasi terhadap mutu pendidik, diharapkan dengan adanya sertifikasi, profesionalisme guru meningkat.

Dalam UUGD Pasal 1. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Tak diragukan lagi guru merupakan suatu pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu.

Siapa saja bisa terampil dalam mengajar kepada orang lain, tetapi hanya mereka yang berbekal pendidikan profesional keguruan yang bisa menegaskan dirinya memiliki pemahaman teoritik dan praktek bidang keahlian kependidikan.

Kualifikasi pendidikan ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal bidang dan jenjang tertentu.

Setujukah anda?

OMICS Publishing Group


2013
04.18

OMICS Publishing Group is a publisher of approximately 250 open access journals in a number of academic fields. The company’s director is Srinubabu Gedela[1] and it has offices in Los Angeles (United States), Hyderabad (India), and Henderson (Nevada, United States).[2] It is part of the Hyderabad-based OMICS Group,[3] which also has another branch, OMICS Group Conferences, which organizes scientific conferences.[4] The group started its first open-access journal, the Journal of Proteomics & Bioinformatics, in 2008.[5]

Some observers have described the publisher as “predatory”, insofar as authors who have submitted papers have been sent invoices after their manuscripts were accepted for publication despite the lack of a robust peer-review process. One author received an invoice for $2700 after her paper was accepted; this fee was not mentioned in the email message OMICS sent her to solicit a submission.[2] These observations have led critics to assert that the main purpose of the publisher is commercial rather than academic.[6][7] The company director asserts that its activities are legitimate and ethical.[1]

Some academics have been listed for OMICS conferences without their agreement; the company has also been slow to remove the names of editorial board members who requested to terminate their relationship with OMICS activities.[1]

References

  1. ^ a b c Gina Kolata, “Scientific Articles Accepted (Personal Checks, Too)”, New York Times, 8 April 2013
  2. ^ a b Declan Butler, “Investigating journals: The dark side of publishing”, Nature, 27 March 2013
  3. ^ “OMICS Publishing Group :: Contact”. Omicsonline.org. Retrieved 2012-10-03.
  4. ^ “Previous OMICS Group Conferences”. Retrieved 2012-11-20.
  5. ^ Simpson, Richard J. (April 2008). “Editorial”. Journal of Proteomics & Bioinformatics 1 (1): i–ii. Retrieved 20 November 2012.
  6. ^ Stratford, Michael (2012-03-04). “‘Predatory’ Online Journals Lure Scholars Who Are Eager to Publish”. Chronicle.com. Retrieved 2012-10-02.
  7. ^ “The Charleston Advisor Update: Predatory Open-Access Scholarly Publishers”. Charleston.publisher.ingentaconnect.com. 2010-07-01. Retrieved 2012-10-02.

Source: http://en.wikipedia.org/wiki/OMICS_Publishing_Group

 

 

 

Jurnal Preadator


2013
04.03

(Kompas cetak, 2 April 2013)
Jurnal Predator! (Terry Mart)

Belakangan ini, saya sering ditanya tentang jurnal predator. Rupanya orang
mulai meresahkannya.

Istilah jurnal predator pertama kali diajukan Jeffrey Beall, pustakawan
yang bekerja di Universitas Colorado, Amerika Serikat. Puluhan penerbit
dan ribuan jurnal ia kategorikan sebagai predator. Jurnal predator
diterbitkan oleh penerbit predator dengan tujuan utama bisnis,
menghasilkan uang bagi si pembuat jurnal. Biaya pemuatan per makalah
ratusan hingga ribuan dollar AS. Tidak murah!

Jeffrey Beall saat ini rutin meneliti jurnal predator yang baru muncul dan
bersifat open-access, yaitu jurnal yang hanya tersedia secara online,
tidak ada versi cetak. Kalaupun ada, hanya versi cetak lepas (reprint)
yang tentu saja sangat mudah dicetak dengan printer masa kini.

Skandal ilmiah

Tidak sulit memulai bisnis ini asalkan bisa membangun situs yang menarik
dengan embel-embel foto orang-orang berjas putih, memakai masker putih,
seolah-olah sedang meneliti atau berdiskusi. Lebih meyakinkan lagi jika
situs tadi ditempeli gambar rantai DNA agar terlihat lebih ilmiah.
Ironisnya, bahkan untuk jurnal sosial pun, rantai DNA tetap dipajang.

Dengan menggunakan peranti lunak Open Journal System yang mudah dipasang
dan gratis karena bersifat open source, remaja yang terlatih menggunakan
teknologi informasi bisa mengendalikan aliran makalah yang masuk, proses
penjurian (review), hingga penerbitan makalah secara profesional. Seperti
kata Beall, prinsip pendirian jurnal predator adalah membuat situs,
mengirim e-mail spam ke para ilmuwan, dan setelah itu tinggal berleha-leha
menunggu konsumen datang.

Mungkin masalah terberat jurnal predator adalah mencari penulis makalah,
juri (reviewer), dan dewan editor. Meski demikian, pendiri jurnal predator
tidak kehabisan akal. Mereka mengirimkan e-mail spam ke ilmuwan-ilmuwan
untuk mengisi.

Di negara berkembang, hal ini seperti gayung bersambut karena ilmuwan
negara berkembang sangat membutuhkan aktualisasi diri melalui
jurnal-jurnal dengan “cap internasional”. Semua itu untuk meraih hibah
penelitian atau jabatan yang lebih tinggi meski harus membayar mahal.
Jadilah “simbiosis yang saling menguntungkan”.

Sebenarnya tidak ada masalah jika makalah yang masuk benar-benar diperiksa
juri yang mumpuni, sebidang, dan menggunakan standar ilmiah internasional.
Kenyataannya, hampir semua jurnal ini menjamin makalah pasti diterima asal
membayar. Di sini skandal ilmiah itu dimulai.

Contoh paling jelas adalah makalah hasil copy-paste di bidang pertanian
yang mengatasnamakan penyanyi Inul Daratista dan Agnes Monica sebagai
penulis makalah di sebuah jurnal predator di Afrika tahun lalu. Tentu
saja, kejadian ini sangat memalukan bagi jurnal tersebut karena jelas
sekali makalah tidak diperiksa oleh juri ahli sebelum diterbitkan. Saat
ini, makalah itu sudah dicabut oleh pemilik jurnal, tetapi Jeffrey Beall
masih menyimpan salinan makalah tersebut di lamannya.

Alamat palsu

Hasil penelitian Beall memperlihatkan, hampir semua jurnal predator
dikendalikan dari India, Pakistan, serta negara-negara di Afrika meski di
situsnya ada alamat surat di Amerika, Kanada, atau Eropa untuk mengelabui
konsumen.

Pada umumnya, jurnal predator bisa ditengarai dari sulitnya menemukan
alamat darat jurnal. Editor jurnal hanya dapat dihubungi melalui e-mail
atau situs internet. Beberapa alamat yang dipajang, bila diperiksa dengan
fasilitas Google Earth, hasilnya akan menunjuk ke alamat apartemen murah,
apotek, atau tempat-tempat yang mustahil berbau ilmiah. Pemilik jurnal
biasanya menyewa alamat kotak surat di Amerika atau Kanada.

Banyak juga jurnal predator yang judulnya dimulai dengan “American Journal
of” atau “Canadian Journal of” semata-mata untuk menunjukkan bahwa jurnal
ini merupakan produk Amerika atau Kanada.

Begitu pesatnya perkembangan jurnal predator membuat penerbit ataupun
jurnal mulai kehabisan nama. Muncul nama-nama penerbit atau jurnal yang
mirip atau malah sama. Bahkan, nama-nama tidak lazim mulai bermunculan,
misalnya ada jurnal yang namanya “sampah”.

Jadi rumit

Masalah jurnal predator ini menjadi rumit karena kontribusi para ilmuwan
(terutama dari negara berkembang) yang secara langsung turut membesarkan
jurnal. Di lamannya, Beall mengajak para ilmuwan dan akademisi untuk
menjauhi jurnal ini dengan cara tidak berkontribusi sebagai penulis
makalah, juri, atau reviewer, serta editor jurnal.

Akibat kontribusi para ilmuwan, beberapa jurnal memiliki faktor dampak
(impact factor/IF) meski IF tertinggi hanya 0,5. Sejumlah jurnal predator
juga sudah diindeks oleh Scopus. Sebagai catatan, IF dipercaya banyak
ilmuwan untuk menggambarkan kualitas jurnal, sedangkan indeks Scopus dalam
skala nasional kita dianggap sebagai stempel jurnal internasional.

Bagi jurnal-jurnal ilmiah nasional yang sudah diakui keilmiahannya melalui
akreditasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, keberadaan jurnal
predator jelas sangat merugikan. Makalah-makalah ilmiah yang potensial
untuk diterbitkan jurnal nasional terserap oleh jurnal predator gara-gara
ada embel-embel internasionalnya. Padahal, dalam banyak hal, jurnal
nasional kita jauh lebih baik dibandingkan jurnal predator.

Ada satu kasus lagi yang direkam laman Beall. Seorang ilmuwan terpaksa
harus menarik kembali makalahnya dari sebuah jurnal predator karena
makalah tersebut terpublikasi juga di jurnal yang jauh lebih bergengsi.
Namun, jurnal predator mengharuskan si penulis makalah membayar “biaya
penarikan”.

Sangat mencengangkan, betapa komersial jurnal tersebut. Untuk memasukkan
harus membayar, dan untuk menarik makalah juga harus membayar. Saya tidak
dapat membayangkan berapa banyak biaya total yang dihabiskan ilmuwan
negara berkembang untuk menarik makalah-makalah yang mereka tulis jika
sekali waktu jurnal sejenis ini dimasukkan dalam daftar hitam pihak
berwenang.

Permasalahan jurnal predator tidak akan begitu kronis jika para ilmuwan
negara berkembang kembali menyadari hakikat makalah ilmiah (Kompas, 21
Februari 2012). Seberkas makalah ilmiah tidak lebih dari laporan hasil
penelitian yang ditulis dalam format tertentu untuk dibaca para peneliti
lain yang mengerti atau berkepentingan dengan hasil penelitian tersebut.

Jurnal komunitas

Saat ini ada puluhan ribu jurnal ilmiah sehingga peneliti harus mencari
jurnal yang visible bagi pembaca targetnya. Jurnal komunitas—mayoritas
komunitas penelitian tertentu memublikasikan hasil penelitian
mereka—merupakan jurnal yang paling tepat untuk tujuan ini.

Di bidang fisika, misalnya, ada jurnal yang diterbitkan American Physical
Society atau European Physical Journal dan merupakan contoh jurnal-jurnal
komunitas yang sangat baik.

Kita sangat yakin bahwa ilmuwan yang baik tidak memerlukan jurnal predator
karena komunitas ilmiahnya sudah memiliki jurnal-jurnal standar komunitas
yang visibilitasnya sangat tinggi di komunitas itu. Meski saya tidak
menampik bahwa IF dapat menggambarkan kualitas jurnal secara kualitatif,
jurnal komunitas akan lebih efektif menyampaikan informasi.

Jurnal predator bisa dikategorikan sebagai jurnal subhat (meragukan)
sehingga sebaiknya kita hindari.

Terry Mart Pengajar Departemen Fisika FMIPA UI

etika lingkungan


2012
06.18

Kelestarian lingkungan sangat tergantung pada sikap manusia. Manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan dilandasi agama merupakan pemimpin dunia untuk tetap menjaga lingkungan.
a. Bagaimana konsep pembangunan berkelanjutan tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan? Berikan contoh untukmenjelaskan hal tersebut
b. Adakah ayat/pasal/surah dalam kitab suci agama anda yang menunjukkan pentingnya lingkungan bagi manusia? Tunjukkan bagian dari kitab suci agama anda yang menyatakan hal tersebut dan bagaimana penjelasannya?

Menilai diri sendiri


2012
05.13

1. Menilai diri sendiri bukanlah hal yg mudah
2. Seringkali kita membangun pertahanan diri untuk melindungi ego
3. Untuk menilai diri dibutuhkan kesanggupan berpikir logis, pikiran terbuka dan keberanian
4. Saat kita lahir ke dunia, kita tidak berdaya dan tergantung orang lain
5. Butuh belajar dari orang lain
6. Butuh pujian, cinta dan perlindungan
7. Membutuhkan orang lain untuk mencari dan menyampaikan pendapat
8. Membutuhkan teman untuk berbagi perasaan
9. Membutuhkan simpati orang lain dan memperoleh jaminan tentang harga dirinya
10. Kadang menipu diri sendiri demi menjaga citra diri
11. Kadang melakukan perbuatan yang tidak dipikirkan secara matang terlebih dahulu
12. Kadang memberikan alasan untuk membenarkan perbuatannya
13. Memungkiri perbuatannya yang tidak benar dengan menyalahkan orang lain

Etika Bisnis dan tanggung Jawab Sosial


2012
04.25

Etika adalah aturan yang membantu kita membedakan antara benar dan salah. Mereka mendorong kita untuk melakukan hal yang benar.

Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan etika-individu kepercayaan dan standar sosial tentang apa yang benar dan baik.

Etika bisnis didasarkan pada etika masyarakat dan orang-orang yang bekerja untuk dan membeli dari mereka.

Sebuah dilema etis adalah masalah moral dengan pilihan antara potensi benar dan salah. Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan adalah:

§ Siapa yang akan dibantu oleh apa yang Anda lakukan?
§ Siapa yang akan terluka oleh apa yang Anda lakukan?
§ Apa manfaat dan masalah keputusan seperti itu?
§ Apakah keputusan tersebut bertahan dalam waktu tertentu?
Apa Yang Terjadi Ketika Orang Berperilaku Tidak Etis?
Ketika seorang individu bertindak tidak etis, perilakunya kemungkinan besar akan merugikan orang lain. Individu juga bisa dikirim ke penjara karena nya atau tindakannya. Masalah etika utama meliputi penipuan, skandal akuntansi, dsb
Skandal Akuntansi
Sebuah skandal akuntansi terjadi ketika akuntan atau eksekutif senior mengubah catatan akuntansi untuk keuntungan pribadi.

Informasi akuntansi digunakan di dalam dan luar bisnis untuk membuat keputusan. Ketika penyimpangan akuntansi yang terungkap, seorang akuntan forensik menyelidiki dokumen hukum dan keuangan untuk menemukan adanya bukti perusakan.

Penggelapan, sejenis penipuan akuntansi, yang terjadi ketika seorang akuntan atau eksekutif senior menciptakan account palsu dan pengalihan uang ke mereka untuk keuntungan pribadi.

Corporate Social Responsibility

Sebuah bisnis menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan (CRS) melalui nilai-nilai, etika, dan kontribusi itu untuk masyarakat. CRS didorong oleh keinginan untuk melindungi para pelanggan dan memperlakukan karyawan serta pemegang saham.

CSR Principles

Prinsip CSR mendukung para karyawan dan konsumen dengan:

•menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat
•kebijakan tenaga kerja yang adil
•Perlindungan lingkungan
•jujur ​​dalam iklan
•menghindari diskriminasi harga
•amal

Antidiscrimination Issues

Diskriminasi,  menyangkal/menyingkirkan individu yang berkualitas berdasarkan agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau cacat fisik.

Diskriminasi gender memperlakukan karyawan secara berbeda berdasarkan jenis kelamin mereka (laki-laki atau perempuan).

Gangguan

Banyak perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur untuk menangani pelecehan: perilaku yang mengancam, mengganggu, atau membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Fair Trade

Perdagangan yang adil merupakan praktek sukarela untuk membantu produsen di negara berkembang memotong tengkulak mahal sehingga mereka dapat menjual barang mereka di negara lain untuk keuntungan yang adil.

perdagangan yang adil dimulai dengan kemitraan antara petani di negara-negara berkembang dan organisasi bantuan (bottom up) untuk membantu mereka menjangkau pasar di Eropa dan Amerika Utara (top down).

Perdagangan Etis berarti menggunakan perdagangan untuk memastikan bahwa hak-hak dasar buruh karyawan di negara lain dihormati.

definitions


2012
03.21

Ethics: The philosophical study of what is right or wrong in human conduct and what rules or principles should govern it. Hence the term is singular. This is often subdivided into meta-ethics, applied ethics and professional ethics.
Meta-ethics: The systematic study of the nature of ethics. This looks into issues such as how an ethical judgement can be justified and the possible theoretical underpinning of ethical reflection and practice.
Applied Ethics: The application of ethics in a particular area of practice, e.g. business or bio-ethics.
Professional Ethics: The ethical identity, codes and practices of particular professions, such as the professions followed by nurses, doctors, lawyers or engineers.
Morality: Morality often refers to standards of moral conduct – right behaviour. In the history of philosophy there have been many attempts to differentiate the concept from ethics. However, it is most often used interchangeably with the term ‘ethics’, which is how we will use it.

Engineering Ethics: Engineering ethics is defined in the two ways:
1. The study of moral issues and decisions confronting individuals and organizations involved in engineering.
2. The study of related questions about moral conduct, character and relationship involved in technical development

Reference

Simon Robinson, Ross Dixon, Christopher Preece and Krisen Moodley. 2007. Engineering, Business and Professional Ethics. Elsevier. Oxford

Pengantar Etika Profesi


2012
02.20

Secara etimologi kata etika berasal dari bahasa Yunani yang dalam bentuk tunggal yaitu ethos dan dalam bentuk jamak yaitu ta etha. Ethos yang berarti sikap, cara berpikir,watak kesusilaan atau adat. Kata ini identik dengan perkataan moral yang berasal bahasa latin mos yang dalam bentuk jamaknya mores yang berarti adat atau cara hidup. Kata mores mempunyai sinonim mos, moris, manner, mores,dan  moral. Dalam bahasa Indonesia kata moral berarti  akhlak atau kesusilaan yang mwngandung makna tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Etika dan moral memiliki arti yang sama, namun dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral biasanya dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai/dikaji (dengan kata lain perbuatan itu dilihat dari dalam diri orang itu sendiri), artinya moral disini merupakan subyek, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada dalam kelompok atau masyarakat tertentu (merupakan aktivitas atau hasil pengujian).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah etika diartikan sebagai:

  1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tenatng hak dan kewajiban moral
  2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
  3. Nilai mengenai benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.

 

Etika merupakan cabang filsafat yang mencari ukuran baik buruknya bagi tingkah laku manusia. Etika hendak mencari, tindakan manusia yang manakah yang baik. Etika berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuan yang terkait dengan manusia dn masyarakat seperti: anthropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, hokum, kedokteran, peternakan dan sebagainya. Etika berpengaruh terhadap kewajiban moral, tanggung jawab, dan keadilan social.Etika menjelaskan stnadar dan norma perilaku tanggung jawab masyarakat, kemudian diinternalkan kepada masing-masing anggota organisasi tersebut.

Dalam teori etika terdapat beberapa teori yaitu etika deontology, etika teleology, etika hak dan etika keutamaan.

  1. Etika Deontologi. Istilah deontology berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban atau sesuai dengan prosedur dan logosyang berarti ilmu atau teori. Menurut teori ini beberapa prinsip moral itu bersifat mengikat betatapun akibatnya. Etika ini menekankan kewajiban manusia untuk untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendirisebagai baik pada dirinya sendiri. Atau dengan kata lain tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Teori ini menekankan kewajiban sebagai tolak ukur bagi penilaian baik atau buruknya perbuatan manusia, dengan mengabaikan dorongan lain seperti rasa cinta atau belas kasihan. Terdapat tiga kemungkinan seseorang memenuhi kewajiban yaitu:
    1. Karena nama baik
    2. Karena dorongan tulus dari hati nurani
    3. Memenuhi kewajibannya

Deontologi menetapkan aturan, prinsip dan hak berdasarkan pada agama, tradisi, adat istiadat yang berlaku. Yang menjadi tantangan dalam menetapkan deontological adalah menentukan yang mana tugas, kewajiban, hak, maupun prinsip yang didahulukan. Teori ini berpijak pada norma-norma moral konkret yang harus diatati, namun belum tentu mengikat untuk kondisi yang bersifat khusus. Contohnya seseorang boleh saja merampok kalau hasil rampokannya dipakai untuk member makan orang yang terkena musibah.

  1. Etika Teleologi. Teleology berasal dari kata Yunani telos yang berarti tujuan, sasaran atau hasil dan logosi berarti ilmu atau teori. Etika ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan konsekuensi yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau kalau konsekuensi yang ditimbulkannya baik dan berguna. Bila kita akan memutuskan apa yang benar, kita tidak hanya melihat konsekuensi keputusan tersebut dari sudut pandang kepentingan kita sendiri. Tantangan yang sering dihadapi dalampenggunaan teori ini adalah bila kita dapat kesulitan dalam mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan dalam mengevaluasi semua kemungkinan dari keputusan yang diambil.
  2. Etika Hak. Etika Hak memberi kepada pelaku untuk mengevaluasi apakah tindakan, perbuatan, dan kebajikannya telah tergolong baik atau buruk dengan menggunakan kaidah hak seseorang. Hak seseorang sebagai manusia tidak dapat dikorbankan oleh orang lain apapun statusnya. Hak manusia adalah hak yang dianggap melekat pada setiap mansia, sebab berkaitan dengan realitas hidup manusia sendiri. Etika hak kadangkala dinamakan “hak manusia” sebab manusia berdasarkan etika harus dinilai menurut martabatnya. Etika hak mempunyai sifat dasar dan asasi (human rights), sehingga etika hak tersebut merupakan hak yang:
    1. Tidak dapat dicabut atau direbut karena sudah ada sejak manusia itu ada
    2. Tidak tergantung dari persetujuan orang
    3. Merupakan bagian dari eksistensi manusiadi dunia
    4. Etika Keutamaan. Etika ini tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan, tidak mendasarkan penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal seperti teori sebelumnya. Etika ini lebih mengutamakan pembangunan karakter moral pada diri setiap orang. Nilai moral bukan muncul dalam bentuk adanya aturan berupa larangan atau perintah, namun dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktekkan oleh tokoh-tokoh tertentu dalam masyarakat. Didalam etika karakter lebih banyak dibentuk oleh komunitasnya. Pendekatan ini terutama berguna dalam menentukan etika individu yang bekerja dalam sebuah komunitas professional yang telah mengembangkan norma dan standar yang cukup baik. Keuntungan teori ini adalah para pengambil keputusan dapat dengan mudah mencocokkan dengan standar etika komunitas tertentu untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah tanpa ia harus menentukan criteria terlebih dahulu (dengan asumsi telah ada kode perilaku).

 

Pustaka:

Ernawan, E.R. 2011. Business Ethics. Penerbit Alfabeta. Bandung.