Archive for the ‘Islam’ Category

Shalat, zakat dan taubah


2016
05.09

”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)

Surah At Taubah 11 ini menandaskan pada kita, siapakah saudara seagama kita sebenarnya?

saudara seiman adalah mereka yang mengerjakan shalat dan zakat

shalat merupakan wujud kehambaan kita pada Allah sedangkan zakat adalah wujud kecintaan kita karena Allah sehingga kita dengan penuh keimanan membagikan sebagaian rizki kita pada sesama yang membutuhkan.

kalau ada yang menyatakan Islam tetapi tidak shalat maka jelas ia bukanlah saudara begitu juga mereka yang shalat namun tak mau berzakat padahal mampumaka bukan pula saudara kita

mereka akan menjadi saudara kita jika mereka mau bertaubat atas kelalaiannya dana Allah maha menerima taubat

marilah kita berkuat persaudaraan

TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN DI PADANG MAHSYAR


2013
07.26
Kultum subuh Ust Ali Wafa Jumat 26/7/2013 (18/9/1434 H)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh Golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yang diizinkan Nya swt, (1) Imam/pemimpin yang Adil, dan (2) pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah pada Tuhannya, dan (3) orang yg hatinya terpaut dengan masjid, dan (4) dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan (5) lelaki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata: ‘Aku takut pada Allah’, dan (6) lelaki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan (7) orang yang ketika dzikir/mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (Shahih Bukhari).

 

  1. Imam yang adil, ialah yang menerapkan hukum secara adil berdasarkan kitabullah, sesuai syariat Allah, tidak dhalim/merugikan orang lain, tidak membeda-bedakan/memilih-milih hukum yang menguntungkan diri/nafsunya. Profil imama seperti itu misalnya Umar bin Khattab, Abu Bakr, atau Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menyuruh isterinya melepas semua perhiasan yang diberi oleh ayahnya (mantan khalifah), belanja kain yang paling murah yang tak lebih baik daripada yang dikenakan rakyatnya. Umar bin Khattab juga demikian. Pernah utusan Raja Persia yang datang ke Madinah terkejut melihat sosok Khalifah Umar, sampai-sampai ada syair yang menggambarkan keadaan itu: Tanpa pengawalan, tidur di bawah pokok kurma, berselimutkan kain burdah yang sudah pudar warnanya. Wahai Umar, kau bisa merasa aman, bisa tidur di mana pun, karena kau terapkan keadilan di antara rakyatmu…
  2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah SWT, melakukan apa yang dicintai oleh Allah.
  3. Orang yg hatinya terpaut dengan masjid. Jadi yang terpaut bukan hanya badannya. Merasa menyesal/rugi kalau tidak ikut berjamaah di masjid. Contohnya (lagi-lagi) Umar, suatu ketika ia sangat menyesal sampai menangis karena tertinggal untuk berjamaah shalat asar di masjid… Contoh lain, Abu Bakr lewat di depan rumah Abdurrahman (anaknya) yang asyik bercanda dengan isterinya padahal sudah ada panggilan adzan. Berkali-kali Abu Bakr menemui hal serupa, sehingga kepada Abdurrahman ia berkata: “Talak isterimu karena ia telah melalaikan kamu untuk shalat di masjid”..
  4. Dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena ketaatan kepada Allah. Bergaul dalam koridor aturan yang dibenarkan syariah. Sebuah nasihat untuk pemuda-pemudi Islam: Ungkapkan cinta kepada orang kamu dambakan jika kamu sudah siap untuk menikah membangun rumah tangga… Bila kau tertarik pada seorang gadis dan kamu siap untuk berumah tangga, segera ajak orang tuamu untuk melamarnya..
  5. Lelaki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik dan kaya namun ia mampu berkata: ‘Aku takut pada Allah’.
  6. Lelaki yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi, ibaratnya tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu. Tetapi ada kalanya perlu sedekah dengan terang-terangan untuk membangkitkan semangat orang banyak, seperti yang dilakukan Utsman bin Affan ketika di depan Rasulullah menyatakan menyumbang 100 ekor unta untuk mendukung jihad fi sabilillah perang Tabuk..
  7. Orang yang ketika dzikir/mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya, tafakur dan taqarub kepada Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat naungan Allah di Padang Mahsyar kelak di hari kiamat. Insyallah.

Wallahua’lam.

sumber: fb Farid Atmadiwirya

Minta Maaf Sebelum Ramadhan


2013
07.03

Akhir-akhir ini setiap menjelang Ramadhan kita sering mendapat sms atau email bahkan di facebook atau twitter permohonan maaf lahir dan bathin seperti yang kita alami menjelang dan saat lebaran.

Saya pernah mencoba menanyakan ke orang yang mengirimkan ucapan tersebut apakah ada dasarnya. Lalu ada yang bisa menjawab dengan menyebutkan salah satu hadits kemudian saya coba baca haditsnya ternyata ada perubahan kata kata atau perubahan pemaknaan dari hadits tersebut. Hadits palsunya di jaman modern ini yg kemudian banyak dipakai adalah: “Menjelang ramadhan. Jibril pernah berdo’a: Ya Allah, abaikan puasa umat Muhammad bila sebelum masuk Ramadhan tidak memohon maaf pada orang tua, keluarga dan orang-orang sekitarnya. Lalu Rasulullah menjawab amiin, amiin amiin.”

Hadits yang sering digunakan atau disalah artikan tersebut adalah:

Rasulullah SAW menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan “Amiin” begitu pula pada anak tangga yang kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah SAW mengucapkan Amiin”. Beliau lalu bersabda: “Malaikat Jibril datang dan berkata – kecewa dan merugi seseorang yang disebut namamu dan dia tidak mengucapkan shalawat atasmu – lalu aku berucap Amiin. Kemudian malaikat berkata lagi – kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orangtuanya tetapiia tidak bisa sampai masuk surga – lalu aku jawab Amiin. Kemudian katanya lagi – kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya – lalu aku mengucapkan Amiin.” (HR Ahmad).

Ucapan Malaikat yang ketiga yang diamiini oleh Rasulullah SAW inilah yang kemudian digunakan sebagai dasar saling minta maaf seperti halnya lebaran. Bahkan ada yang menambahi dengan saling memaafkan. Saling memaafkan adalah tindakan mulia dan sangat dianjurkan dalam agama.

Diampuni dosa-dosanya dalam Ramadhon merupakan hal yang harus diraih seorang mukmin karena akan diampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “barangsiapa berpuasa Ramadhan  dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari).

Jadi diampuni dosa-dosanya oleh Allah itulah harapan orang yang berpuasa. Sehingga dalam berpuasa dia harus dengan penuh keimanan. Iman menjadi landasan dalam amal perbuatan termasuk puasa sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Ath Thabrani: “Allah tidak menerima iman tanpa perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”.

Oleh sebab itu marilah kita saling memaafkan sesama saudara bukan karena menjelang puasa Ramadhan atau saat lebaran tetapi karena kita memang memiliki kesalahan dan dosa pada sesama. Dan menjelang awal atahu akhir Ramadhan marilah kita kirim ucapan “Semoga puasa Ramadhan kita adalah puasa yang penuh iman dan ridho Allah dan diampuni segala dosa-dosa kita” ini mungkin lebih sesuai sunnah.

Maaf jika ada salah dan tidak sepaham dengan antum semua. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan terang bagi kita semua. Amiin.

Indahnya Adzan


2013
03.04

Bismillahir-Rah maanir-Rahim …

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.

Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.

Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.

Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.

Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.

“Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.

“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.

Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu.

Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.

Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.

Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…

Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir..

Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang.

Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.

Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.

Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.

Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.

Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.

Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.

Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema .. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.

Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.

Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.

Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.

Ia diam.

Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.

Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.

Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.

Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.

Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.

Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.

Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.

Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.

Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.

Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.

Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil .. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.

Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.

Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu bulan?”

Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.

Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?”

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.

Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,

Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:

“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”

Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikanny a selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.

Semua berubah dalam sekejap!

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.

Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.

Nothing Imposible for Allah,

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..

Bumi inipun Milik Allah, ..

Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.

Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Subhanallah…

Seperti itulah buah dari kesabaran.

“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.

Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)

Allahuakbar!

Shalat dan Menabung


2012
12.17

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat muslim yang saya kasihi

Shalat adalah kewajiban yang kita laksanakan tiap hari sebagai wujud keimanan kita pada Allah SWT. Jika baik shalat kita maka baik pula seluruh amal kita. Perintah shalat dalam Al Qur’an jarang berdiri sendiri namun acapkali diikuti dengan indah yang lain, seperti apa yang dapat kit abaca pada firman Allah SWT berikut:

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS Al baqarah 2 – 3)”

Shalat merupakan rukun iman yang utama setelah dua kalimat syahadat. Oleh sebab itu shalat merupakan amalan utama dan sebagai bukti ketaqwaan seseorang. Seorang dikatan bertaqwa kepada Allah apabila ia mendirikan shalat. Seseorang dikatakan bertaqwa apabila ia meyakini bahwa Al Qur’an adalah petunjuk dari Allah dan tidak ada keraguan padanya serta beriman kepada yang ghaib.

Dalam hal ini shalat tidak berdiri sendiri, sebagai bukti kita beriman dan mendirikan shalat maka kita haruslah menafkahkan sebagian rizqi yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Disini nampak bahwa Shalat sebagai wujud taqwa kita kepada Allah akan menjadi benar ketika kita juga bersosialisasi  ke lingkungan. Menafkahkan sebagian rizqi artinya kita peduli pada lingkungan, apakah itu kepada keluarga yang menjadi tanggung jawab kita atapun kepada sekitar kita. Dalam agama kita mengenal adanya zakat, infaq dan shadaqoh.

Seseorang dikatakan medirikan shalat ketika yang bersangkutan melaksanakannya karena ketaqwaannya sehingga melaksanakan dengan sungguh-sungguh sesuai syariat yang diajarkan. Shalat haruslah memenuhi sunnah bukan sesuai keinginan kita. Shalat yang dilaksanakan tanpa ajaran yang benar hanya menunjukkan pembangkangan kita pada ajaran Rasulullah. Oleh sebab itu, agar kita dalam shalat benar-benar sebagai wujud taqwa maka sudh selayaknya kita mempelajari tata cara shalat yang benar yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Apakah kita tahu sumber bacaan kita mulai dari niat hingga salam? Apakah sumber tersebut dari hadits? Ataukah hanya kata Ustadz? Marilah mulaisaat ini kita mencoba mencari sumber yang benar dari setiap gerakan shalat kita.

Shalat dalam ayat ini diiringin dengan menafkahkan rizqi. Ini berarti seseorang yang bertaqwa kepada Allah SWT adalah seorang yang dermawan, seorang yang peduli pada lingkungannya. Seorang tidaklah sempurna taqwanya hanya dengan shalat saja jika ia tidak memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah bagi yang menjadi tanggung jawabnya, tidak peduli pada lingkungannnya. Tidaklah heran jika kadang muncul anekdot “buat apa shalat kalau pelit”. Sungguh itu bukanlah sifat orang yang bertaqwa.

Menafkah sebagian rizqi mengandung makna pula untuk tidak boros. Seseorang yang beriman haruslah menabung. Tabungan dapat digunakan untuk berbagai hal. Tabungan bukanlah upaya menentang takdir tetapi justru memenuhi perintah Allah untuk menafkahkan sebagian rizqi bukan seluruhnya. Dalam hidup, kadangkala ada masa sulit dan ada masa mudah disinilah Allah memberikan solusi agar disaat mudah kita tidak boros dengan cara menyimpan dan pada saat sulit kita tidak menjadi kekurangan dan tetap dapat beramal?

Jadi?

Marilah kita peduli dan selalu beramal dengan tetap berhemat dengan hidup yang wajar tidak berlebih-lebihan sehingga keselarasan hidup akan kita peroleh dan kita akan selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Demikian apa yang menjadi inspirasi bagiku dari ayat yang sering kita baca ini. Mohon maaf jika tulisan ini tidak sesuai dengan tafsir yang semestinya karena ini memang bukan tafsir tetapi mengambil ayat Al Qur’an untuk memotivasi diri agar menjadi insane yang peduli pada sesama.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh

Nur Hidayat

Bagian II – Ihram dan Tawaf


2012
07.24

Uswatun Hasanah

HIKMAH II

IHRAM

Simbol Kesucian dan Kesetaraan

Kata ihram diambil dari bahasa Arab, yaitu “al-haram“, yang bermakna terlarang atau tercegah. Dinamakan “ihram” karena dengan berniat masuk kedalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, seseorang dilarang  melakukan beberapa hal ( seperti: menebang pepohonan, membunuh binatang, memotong kuku, menikah/menikahkan (melamar), bercumbu, berbicara kotor/ tak senonoh, bertengkar/ berbantah-bantahan untuk hal yang tidak perlu dan mencaci maki.

Mengenakan pakaian Ihram dilakukan di tempat miqat dan merupakan tanda ibadah Haji atau Umrah dimulai dan pengucapan niat dilakukan. Berbeda dengan niat ibadah yang lain seperti sholat dan puasa yang dilakukan dalam hati maka niat ihram (haji/umrah) diucapkan atau diikrarkan. Pada saat ini pula talbiyah diucapkan dengan Lafaz : Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk Laa syariika laka. artinya : Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,Ya Allah aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu. Tidak ada sekutu bagiMu

Ihram merupakan pakaian wajib kaum muslimin yang hendak melaksanakan Ibadah haji maupun Umrah. Pakaian Ihram adalah pakaian putih yang disebut juga pakaian suci, pakaian ini tidak boleh dijahit. Cara pemakaiannya dililitkan kesekeliling tubuh (jama’ah pria). Bagi wanita pakaian ihram lebih bebas tetapi disunatkan yang berwarna putih, yang penting menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.

Pengucapan niat dan talbiyah dengan pakaian ihram dalam ibadah haji ini mengisyaratkan komitmen terbuka dan berikrar memenuhi panggilan Allah dalam kesucian dan kesetaraan. Betapa agungnya sang Pencipta dalam mendidik dan memuliakan makhlukNya. Kita dididik bahwa dalam perjalanan hidup dalam rangka memenuhi panggilaNnya senantiasa berkomitmen mensucikan diri dari perbuatan terlarang.

Bila kita simak bacaan talbiyah yang menggetarkan hati ketika kita melafalkannya, mengisyaratkan makna komitmen terbuka yang sangat kuat untuk mengarahkan dan mengabdikan hidup ini semata-mata untukNya sang Maha Pengasih dan Penyayang. Dalam suasana hati yang bersih dan kesetaraan dengan sesama maka tidak ada yang pantas untuk dipuji dan diagungkan kecuali Dia pemilik karajaan langit dan bumi dan berkomitmen pula untuk tidak menyekutukanNya dengan apapun. Sungguh luar biasa jika kondisi ini diproyeksikan dan diwujudkan dalam keseharian kita. Kalimat talbiyah yang dikumandangkan berkali-kali selama berihram, semestinya mampu membangun akhlak setiap diri yang pernah haji atau umrah. Akhlak yang terbentuk bukan hanya menyangkut hubungan spiritual dengan sang Pencipta tapi juga dalam hubungan dengan sesama makhluk meliputi sikap terhadap sesama manusia, sikap terhadap binatang dan tanaman yang secara eksplisit  tersirat dalam larangan-larangan dalam ihram. Akhlak terhadap sesama manusia jelas ditegaskan yaitu disamping kesetaraan yang menjauhkan diri dari sikap sombong juga keharusan mengendalikan nafsu, dilarang berkata kasar, berbantah-bantahan yang tidak perlu  (bertengkar) dan berkata jorok (tidak senonoh). Betapa indahnya hidup ini jika ‘kondisi’ berihram ini dapat tercipta setiap saat.

HIKMAH III

TAWAF

Lingkaran Ilahi

 

Setelah berihram dari miqat, berangkatlah menuju Masjidil  Haram Mekah untuk mekaksanakan materi workshop berikutnya yaitu TAWAF. Dalam pengertian umum ‘Ibadah Tawaf’ adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dimulai dan berakhir di arah garis lurus dengan Hajar Aswad ( tempat batu hitam ) dengan posisi Baitullah disebelah kiri.

Tata cara pelaksanaan tawaf adalah sebagai berikut : berniat akan melakukan tawaf, lalu menuju ke garis coklat (sekarang diganti lampu hijau) tanda batas putaran tawaf yang letaknya searah Hajar Aswad. Menghadap ke Ka’bah dan ber-Istilam (mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad) dan memberi isyarat mengecupnya, sambil mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar.

Pelaksanaan TAWAF merupakan pelajaran penting dari sang Khalik kepada makhlukNya yaitu seolah ditunjukkan Sunnatullah atau hukum yang diberlakukanNya terhadap alam jagad raya, mulai partikel elementer level elektron sampai makrokosmos  level planet semua beredar berputar pada garis orbitnya. Bila kita simak tata cara pelaksanaan tawaf yang diawali dan diakhiri dengan menghadap ke Ka’bah dan mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad serta memberi isyarat mengecupnya, sambil mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar, mengisyaratkan bahwa kita lahir ke dunia berasal dariNya dan berakhir kembali kepadaNya  dan dalam rentang awal hingga akhir kehidupan, Allah SWT menggambarkan hubungan mesra penuh cinta kasih antara makhluk dan sang Khalik dengan 7x ber-Istilam(mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad) dan memberi isyarat mengecupnya. Sungguh menakjubkan dan betapa indahnya, sejatinya kita hidup di dunia ini dimanapun kita berada dalam keadaan bertawaf karena semua partikel yang ada dalam tubuh kita bahkan bumi yang kita pijakpun  dalam keadaan bertawaf.

Ketika melakukan umrah wajib/haji, tawaf dilakukan dalam keadaan berihram sehingga larangan –larangan saat berihram tetap berlaku ketika tawaf. Saat tawaf banyak tantangan yang dihadapi, karena pada saat yang sama umat dari berbagai penjuru dunia melakukan hal yang sama sehingga diperlukan strategi, kesabaran dan kearifan agar dapat dilakukan dengan lancar. Strateginya adalah mengikuti arus yang benar tanpa memaksakan diri, mengisi peluang tempat kosong yang ada tanpa menyikut atau pun mendorong atau dengan kata lain tidak boleh egois. Bila kondisi ini diproyeksikan kedalam kehidupan keseharian kita,  betapa indahnya hidup ini karena  akhlak yang terbentuk dari orang-orang yang merasa bertawaf dan berihram serta terjaganya kemesraan cinta kasih bersama sang Khalik setiap saat. MaasyaAllah, hal ini perlu diikhtiarkan terus menerus  setiap saat. Semoga Allah SWT melimpahkan rakhmat bagi kita semua yang berikhtiar selalu dijalanNya. Amin.

Hikmah Haji: Renungan dan pengalaman pribadi


2012
06.26

Oleh: Uswatun Hasanah
PENGANTAR
Sebagaimana kita ketahui ibadah Haji merupakan rukun Islam kelima (setelah mengikrarkan dua kalimah syahadat, shalat, puasa dan menunaikan zakat). Jadi haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Hukum wajib disini bukan hanya sekedar dipahami sebagai ‘mendapat pahala jika dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan’ dalam pengertian yang sempit, tapi marilah kita kembangkan pemahaman ibadah yang diwajikan ini dari sisi pendidikan akhlak dibalik amaliah ritualnya. Tentang ‘pahala dan dosa, surga-neraka‘ sementara tidak kita pikirkan karena bukan ranah kita sebagai makhluk tapi kita pasrahkan sepenuhnya pada Allah sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Adil. Yang perlu kita pikirkan dan pahami adalah bahwa yang diwajibkan Allah kepada kita tentang rukun islam yang lima tidak lain adalah sebagai PAKET PENDIDIKAN (Modul Mata Kuliah Wajib) dari Allah sang Pencipta, Maha Guru kepada makhlukNYA sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
PAKET PENDIDIKAN (Rukun Islam) ini diberikan sang Maha Guru yang kasih sayangNya tanpa batas kepada kita makhlukNya (sang murid) dengan pesan-pesan penting dalam bentuk simbol-simbol dalam ritual ibadah demi kepentingan kita selama hidup di dunia dan akhirat yang baik. Kita sebagai murid harus selalu belajar tanpa henti memaknai dan memahami PAKET PENDIDIKAN ini seiring dengan perkembangan pemikiran kita agar limpahan kasih sayangNya dapat kita tangkap dan nikmati setiap saat. Selanjutnya pesan-pesan penting dariNya diikhtiarkan mewujud dan terproyeksikan dalam perbuatan keseharian kita dan limpahan kasih sayangNya yang tercurah ke kita mengalir ke sekitar dan akan terasakan indahnya hidup ini, MaasyaAllah.
Ibadah Haji adalah rukun Islam terakhir yang waktu dan tempat pelaksanaannya tertentu dan kebetulan jauh dari tempat tinggal kita, sehingga pengalaman dan pemahaman tentang ritual haji sangat terbatas setidaknya bagi diri pribadi saya sendiri. Menyadari keterbatasan ini dan meyakini bahwa Allah menghendaki ‘sesuatu’ lewat prosesi haji serta yang diwajibkan hanya sekali seumur hidup maka saya berburu buku untuk dapat menangkap pesan-pesan penting dalam ritual haji sebelum saya berangkat melaksanakannya. Dalam proses berburu inilah saya mudah dan sering menangis, mengagumi sang Maha Guru dalam mendidik makhlukNya dengan kesempurnaan yang tiada tara karena tidak mungkin saya ketahui dan rasakan tanpa saya pergi haji. Dari pengalaman ini saya merasakan betapa pentingnya bekal ilmu dan pemahaman makna simbolik ritual haji sebelum berangkat.
Pemahaman dan pengalaman pribadi yang terbatas inilah yang akan saya share kepada teman-teman.

Hikmah I
MIQAT
Batas Kehidupan (Waktu dan Ruang)
Dalam hidup berumah tangga, bagi saya pergi haji merupakan prioritas kedua setelah memiliki rumah tinggal. Kenapa demikian? Saya ingin mendahulukan kebutuhan yang pokok (hal yang diwajibkan) sedini mungkin agar segera menikmati hidup secara tenteram damai. Untuk mewujudkan ini perlu perjuangan karena bagi kami ongkos haji tidak sedikit dan juga ada yang mengganjal dalam pikiran terkait dengan taqdir sebagai wanita yaitu mensturasi dan pengasuhan anak selama ditinggalkan. Karena saya ingin kesempurnaan dalam melaksanakan ibadah dan alamiah dalam memenuhi panggilaNya. Alhamdulillah, Dia yang Maha Pemberi Petunjuk melalui berbagai tausiah dan bacaan-bacaan, mengantarkan pada keyakinan bahwa apa yang ditaqdirkan kepada saya sebagai wanita maupun ibu bukanlah penghalang karena sejatinya sang Maha Guru akan memberikan pelajaran kepada muridNya sesuai kebutuhan dan kemampuannya dan Dialah yang Maha Tahu. Atas ijinNya saya mendaftar pada bulan Februari 2000 dan berangkat awal 2001. Ada hal unik dan luar biasa sebenarnya pada proses mendaftar hingga menjelang keberangkatan, tapi tidak perlu diceritakan disini supaya tidak terlalu panjang dan bersifat sangat pribadi.
Sebelum berangkat haji muncul pikiran nakal dalam diri saya sebagai murid:’apa sih sebetulnya yang ingin disampaikanNya lewat prosesi haji?. Setelah pergi haji, barulah saya mendapatkan jawaban bahwa : Haji adalah ‘Workshop Agung’ yang dirancang oleh Allah SWT berisi rangkuman amalan yang sarat dengan simbol-simbol yang harus diproyeksikan ke dalam kehidupan untuk mencapai insan muttaqin.
Marilah kita simak satu persatu materi ‘Workshop Agung’ ini dan sebelumnya , agar materi workshop dapat dicerna, dipahami dan dinikmati dengan baik maka sebelum mendaftar haji sebaiknya luruskan dulu motivasi berhaji, yaitu tulus karena Allah serta komitmen yang kuat untuk perbaikan diri.
Materi workshop tak lain adalah rukun haji itu sendiri yang meliputi :
I MIQAT
Miqat, secara harfiah berarti batas. Dalam prosesi haji, miqat dibagi 2 yaitu miqat Zamani ( batas waktu yaitu syawal – dzulhijjah) dan miqat Makani( batas tanah atau tempat. Bir Ali dari arah Madinah dan Yalamlam, sebuah bukit di sebelah selatan Mekah, merupakan miqat bagi jama’ah yang datang dari arah Yaman dan Asia serta tempat-tempat miqat yang lain yang bisa dijumpai dibuku manasik).
Pemahaman makna miqat dalam prosesi haji ini sangat menarik. Sejak awal mendaftar haji, setiap jemaah telah mempersiapkan diri dalam rangka memenuhi panggilan Allah. DitaqdirkanNya kita hidup didunia ini sejatinya adalah perjalanan menuju panggilanNya, yang dibatasi oleh waktu yaitu sebatas umur hidup kita dan ruang sebatas bumi kita berpijak. Dalam batasan waktu dan ruang inilah Allah memberi guideline, pedoman hidup agar dalam menapaki waktu dan tempat, hidup tidak sia-sia dan sesat. Guideline itu tergambar dalam prosesi haji yang akan dibahas berikutnya.

Bersambung…………….. (biar tidak terlalu panjang)

Allah Maha Tinggi, akankah kita jadi serendah-rendah makhluk?


2012
06.01

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi” (QS Al-A’laa:1)
Allah adalah maha tinggi dalam segala sesuatu. Baik kedudukan ataupun keberdaaanNya. Allah bersemayam di atas “Arsy juga menunjukkan kedudukan Allah yang maha tinggi. Hal ini disebabkan semua sifat-sifat Allah yang Agung yang tidak dimiliki oleh semua makhlukNya. Maha Tinggi Allah ini dapat dilihat dari ayat-ayat berikutnya yang menunjukkan alasan kenapa Allah memiliki sifat Maha Tinggi:

  • Ayat 2 menyebutkan “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)”. Kemampuan Allah menciptakan segala apa yang ada di dunia dan menyempurnakannya adalah sesuatu yang tidak dapat ditandingi oleh makhlukNya termasuk manusia. Allah menciptakan langit dan bumi, yang hingga kini manusia belum dapat mengetahui seberapa luasnya. Bagaimana sesuatu yang begitu luas dapat terjadi dengan sendirinya dengan sesuatu keberaturan yang sangat hebat. Dengan ciptaaannya ini manusia dapat menentukan waktu.
  • Ayat 3 menyebutkan “dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. Setelah Allah menciptakan dan menyempurnakan, maka ciptaanNya tadi berada dalam kadar atau ukuran yang telah ditentukan tidaklebih dan tidak kurang keteraturan yang bersifat dinamis. Manusia kini mengenal hukum kekekalan massa, hukum kekekalan energy dan sebagainya. Selain kesempurnaan dalam bentuk dan ukuran juga diberikannya petunjuk. Semua ciptaan Allah ada dalam petunjukNya. Benda-benda yang kita sebut sebagai benda mati ada dalam sunatullah begitu juga benda hidup. Hanya orang-orang yang melampaui bataslah yang mencoba keluar dari petunjukkan atau mencoba untuk melawan petunjuknya. Ketika manusia diberi pengetahuan tentang yang baik dan buruk, banyak diantaranya yang justru mencoba untuk melawan. Dengan mengatasnamakan kebebasan mereka berpakaian dengan mengumbar auratnya seakan itu adalah sebuah kebebasan, meskipun mereka tahu itu telah keluar dari adab yang ada disekitarnya. Mereka merasa sebagai orang yang hebat ketika dapat berbuat tidak baik. Itulah contoh orang-orang yang menentang Allah secara terang-terangan. Hebatnya lagi banyak orang yang menyebut dirinya tokoh agama sering tidak merasa aneh, mereka mengatakan itu hak mereka untuk menjadi baik ataukah tidak. Sifat tokoh agama seperti ini sebenarnya bertentangan dengan ayat 9 pada surat ini pula: “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”. Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kita harus memberi peringatan bukan membiarkan. Setiap peringatan akan ada manfaatnya. Apabila tidak dapat memberikan pengaruh pada sang tokoh setidaknya para penganutnya mulai berpikir, bahwa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kaidah yang ada di masyarakat dan ia hanyalah pengikut. Orang yang ia ikuti saja dibenci apalagi dia yang ada langsung di masyarakat namun tidak memiliki kekuasaan.

Kesadaran yang ditumbuhkan melalui peringatan adalah jalan yang baik. Maka akankah kita menjadi orang-orang yang apatis? Orang yang tidak mau memberi peringatan? Orang yang membiarkan orang lain tersesat? Lalu apakah kita masih menyebut diri kita sebagai khalifah dimuka bumi, jika kita hanya memikirkan diri sendiri? Marilah kita bersama-sama menanamkan pada diri sendiri dan orang sekitar kita tentang hakekat kita sebagai makhluk ciptaanNya sehingga sudah sewajarnya kita mengikuti apa yang diajarkan melalui agama bukan malah menentangnya.
Semoga hati ini diberi keimanan yang kuat sehingga mampu membentengi diri dari segala kebodohan yang menjadikan kita rendah serendah-rendahnya, jauh dari kadar yang ditentukan Allah.
Mohon maaf jika ada khilaf, karena ini bukanlah tafsir namun sebuah perenungan tentang Maha Tingginya Allah yang dengan sifat tersebut Allah meninggikan derajat umatNya yang mau memberi peringatan.

Al Qur’an adalah petunjuk bagi yang bertaqwa


2012
04.13

Selama ini kita selalu mengatakan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia baik yang beriman ataupun yang tidak. Hal ini sering dikaitkan oleh keyakinan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang dibawa oleh Nabi akhir Jaman yaitu Rasulullah SAW. Benarkah demikian?

Dalam Al Qur’an mungkin kita menemukan banyak penjelasan dan saya juga bukan ahli tafsir. Hanya saya akan lebih memfokuskan pengertian awal yaitu sebagaimana tertera dalam Al Qur’an Al Baqarah ayat 2: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Disini kita sebagai umat Islam sudah semestinya tidak ragu sedikitpun terhadap kandungan Al Qur’an dan menjadikannya sebagi petunjuk. Sayangnya kadang kita lebih sering menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan atau hafalan untuk memperoleh pahala dan bukan menjadikannya petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita banyak mengandalkan kemampuan diri atau bantuan orang lain. Kita lebih kagum pada kata-kata para motivator dibandingkan dengan apa yang teedapat dalama Al Qur’an. Dan hanya orang – orang yang bertakwalah yang menggunakan Al Qur’an sebagai petunjuk. Siapa orang yang bertakwa itu? Al Qur’an menyebutkan dalam banyak ayat. Namun setidaknya dapat kita lihat di ayat berikutnya: (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Al Baqarah:3) .

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib. Suatu halyang sering diabaikan oleh orang-orang yang merasa dirinya adalah orang berpengetahuan atau sering menyebut dirinya orang cerdik pandai. Allah adalah hal yang gaib begitu juga dengan apa yang ditakdirkan kepada kita. Hanya mereka yang menggunakan hatinya yang mampu mendalami dan meyakini bahwa apa yang ada adalah bagian dari hal yang gaib. Ini memiliki implikasi bahwa orang yang bertakwa selalu penuh harap dan do’a. ia tidakmenjadi sombong terhadap apa yang ia peroleh karena ia yakin semua adalah atas kehenda-Nya. Oleh sebab itu sangatlah wajar kalau cirri orang beriman yang kedua adalah mereka yang mendirikan shalat.

Orang mukmin yang mendirikan shalat pada hakekatnya adalah mereka yang mempercayai hal yang gaib dan menjadikan Al Qur’an sebagi petunjuknya. Mendirikan shalat hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar yakin. Mereka tidak sekedar menjalankan ibadah shalat semata tapi menjadikan shalat sebagai langkah hidupnya. Ia benar-benar melangkah dari apa yang ia do’akan dalam shalat atau sesudahnya kemudian melakukan kehidupan. Ia menyempurnakan shalatnya dengan shalat sunah. Sehingga alangkah anehnya jika kita menyebut diri sebagai orang bertakwa tapi lalai dalam shalat termasuk shalat sunah di dalamnya. Hanya orang-orangyang berimanlah yang mampu melakukan shalat sunah. Banyak dari kita tidak melaksanakan shalat sunah dengan anggapan itukan bukan wajib jadi kita tidak harus melaksanakan. Sama dengan ketika ditegur bahwa merokok itu tidak baik, maka ia bilang kan merokok itu makruh kenapa saya harus meninggalkan kan bukan haram?

Tingkatan kita dalam bertakwa menunjukkan sejauh mana kita melaksanakan yang sunah dan meninggalkan yang makruh. Tingkat yang rendah adalah yang hanya menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram dengan tidak melaksanakan yang sunah. Semoga kita tidak lebih rendah dari itu.

Setelah ada kesadaran bathin sehingga mampu mendirikan shalat maka langkah tersebut akan dicerminkan dalam keikhlasan dalam bersedekah dari rizki yang kita terima. Rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya menjadikan kita suka bersedekah karena kita yakin semua adalah dari Allah dan dalam harta kita ada bagian dari orang miskin. Itulah bukti kita sebagai insan yang bertakwa.

Maaf bila ada yang tidak berkenan dan sekali lagi ini bukanlah tafsir tapi pencerahan diri untuk menjadi lebih baik dengan memahami dan mengamalkan ayat-ayat dari Allah SWT yang tertulis dalam Al Qur’an.

wassalam

Jenggot


2012
03.07

Anas r.a berkata: “Rasulullah SAW tidak menyemirnya, Jika Ia mau maka saya akan menghitung rambut hitam yang bercampur rambut putih di jenggot Beliau” (HR Bukhari).

hadits di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya menyemir rambut (jenggot) tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW, ini bukan berarti kita tidak perlumemeliharan jenggot……. karena dalam riwayat Muslim dikatakan cukurlah kumis dan peliharan jenggot.

Apakah kita mau melakukan apa yang disunnahkan? ataukah kita justru ingin mengingkari sunnah agar kelihatan modern?

semua tergantung niat kita,apakah akan menjadi muslim ataukah tidak.