Archive for the ‘asmaul husna’ Category

Allah Maha Tinggi, akankah kita jadi serendah-rendah makhluk?


2012
06.01

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi” (QS Al-A’laa:1)
Allah adalah maha tinggi dalam segala sesuatu. Baik kedudukan ataupun keberdaaanNya. Allah bersemayam di atas “Arsy juga menunjukkan kedudukan Allah yang maha tinggi. Hal ini disebabkan semua sifat-sifat Allah yang Agung yang tidak dimiliki oleh semua makhlukNya. Maha Tinggi Allah ini dapat dilihat dari ayat-ayat berikutnya yang menunjukkan alasan kenapa Allah memiliki sifat Maha Tinggi:

  • Ayat 2 menyebutkan “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)”. Kemampuan Allah menciptakan segala apa yang ada di dunia dan menyempurnakannya adalah sesuatu yang tidak dapat ditandingi oleh makhlukNya termasuk manusia. Allah menciptakan langit dan bumi, yang hingga kini manusia belum dapat mengetahui seberapa luasnya. Bagaimana sesuatu yang begitu luas dapat terjadi dengan sendirinya dengan sesuatu keberaturan yang sangat hebat. Dengan ciptaaannya ini manusia dapat menentukan waktu.
  • Ayat 3 menyebutkan “dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. Setelah Allah menciptakan dan menyempurnakan, maka ciptaanNya tadi berada dalam kadar atau ukuran yang telah ditentukan tidaklebih dan tidak kurang keteraturan yang bersifat dinamis. Manusia kini mengenal hukum kekekalan massa, hukum kekekalan energy dan sebagainya. Selain kesempurnaan dalam bentuk dan ukuran juga diberikannya petunjuk. Semua ciptaan Allah ada dalam petunjukNya. Benda-benda yang kita sebut sebagai benda mati ada dalam sunatullah begitu juga benda hidup. Hanya orang-orang yang melampaui bataslah yang mencoba keluar dari petunjukkan atau mencoba untuk melawan petunjuknya. Ketika manusia diberi pengetahuan tentang yang baik dan buruk, banyak diantaranya yang justru mencoba untuk melawan. Dengan mengatasnamakan kebebasan mereka berpakaian dengan mengumbar auratnya seakan itu adalah sebuah kebebasan, meskipun mereka tahu itu telah keluar dari adab yang ada disekitarnya. Mereka merasa sebagai orang yang hebat ketika dapat berbuat tidak baik. Itulah contoh orang-orang yang menentang Allah secara terang-terangan. Hebatnya lagi banyak orang yang menyebut dirinya tokoh agama sering tidak merasa aneh, mereka mengatakan itu hak mereka untuk menjadi baik ataukah tidak. Sifat tokoh agama seperti ini sebenarnya bertentangan dengan ayat 9 pada surat ini pula: “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”. Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kita harus memberi peringatan bukan membiarkan. Setiap peringatan akan ada manfaatnya. Apabila tidak dapat memberikan pengaruh pada sang tokoh setidaknya para penganutnya mulai berpikir, bahwa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kaidah yang ada di masyarakat dan ia hanyalah pengikut. Orang yang ia ikuti saja dibenci apalagi dia yang ada langsung di masyarakat namun tidak memiliki kekuasaan.

Kesadaran yang ditumbuhkan melalui peringatan adalah jalan yang baik. Maka akankah kita menjadi orang-orang yang apatis? Orang yang tidak mau memberi peringatan? Orang yang membiarkan orang lain tersesat? Lalu apakah kita masih menyebut diri kita sebagai khalifah dimuka bumi, jika kita hanya memikirkan diri sendiri? Marilah kita bersama-sama menanamkan pada diri sendiri dan orang sekitar kita tentang hakekat kita sebagai makhluk ciptaanNya sehingga sudah sewajarnya kita mengikuti apa yang diajarkan melalui agama bukan malah menentangnya.
Semoga hati ini diberi keimanan yang kuat sehingga mampu membentengi diri dari segala kebodohan yang menjadikan kita rendah serendah-rendahnya, jauh dari kadar yang ditentukan Allah.
Mohon maaf jika ada khilaf, karena ini bukanlah tafsir namun sebuah perenungan tentang Maha Tingginya Allah yang dengan sifat tersebut Allah meninggikan derajat umatNya yang mau memberi peringatan.