Bagian II – Ihram dan Tawaf

Posted: 24th July 2012 by nurhidayat in haji, Islam
Tags: , , , , ,

Uswatun Hasanah

HIKMAH II

IHRAM

Simbol Kesucian dan Kesetaraan

Kata ihram diambil dari bahasa Arab, yaitu “al-haram“, yang bermakna terlarang atau tercegah. Dinamakan “ihram” karena dengan berniat masuk kedalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, seseorang dilarang  melakukan beberapa hal ( seperti: menebang pepohonan, membunuh binatang, memotong kuku, menikah/menikahkan (melamar), bercumbu, berbicara kotor/ tak senonoh, bertengkar/ berbantah-bantahan untuk hal yang tidak perlu dan mencaci maki.

Mengenakan pakaian Ihram dilakukan di tempat miqat dan merupakan tanda ibadah Haji atau Umrah dimulai dan pengucapan niat dilakukan. Berbeda dengan niat ibadah yang lain seperti sholat dan puasa yang dilakukan dalam hati maka niat ihram (haji/umrah) diucapkan atau diikrarkan. Pada saat ini pula talbiyah diucapkan dengan Lafaz : Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk Laa syariika laka. artinya : Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,Ya Allah aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu. Tidak ada sekutu bagiMu

Ihram merupakan pakaian wajib kaum muslimin yang hendak melaksanakan Ibadah haji maupun Umrah. Pakaian Ihram adalah pakaian putih yang disebut juga pakaian suci, pakaian ini tidak boleh dijahit. Cara pemakaiannya dililitkan kesekeliling tubuh (jama’ah pria). Bagi wanita pakaian ihram lebih bebas tetapi disunatkan yang berwarna putih, yang penting menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.

Pengucapan niat dan talbiyah dengan pakaian ihram dalam ibadah haji ini mengisyaratkan komitmen terbuka dan berikrar memenuhi panggilan Allah dalam kesucian dan kesetaraan. Betapa agungnya sang Pencipta dalam mendidik dan memuliakan makhlukNya. Kita dididik bahwa dalam perjalanan hidup dalam rangka memenuhi panggilaNnya senantiasa berkomitmen mensucikan diri dari perbuatan terlarang.

Bila kita simak bacaan talbiyah yang menggetarkan hati ketika kita melafalkannya, mengisyaratkan makna komitmen terbuka yang sangat kuat untuk mengarahkan dan mengabdikan hidup ini semata-mata untukNya sang Maha Pengasih dan Penyayang. Dalam suasana hati yang bersih dan kesetaraan dengan sesama maka tidak ada yang pantas untuk dipuji dan diagungkan kecuali Dia pemilik karajaan langit dan bumi dan berkomitmen pula untuk tidak menyekutukanNya dengan apapun. Sungguh luar biasa jika kondisi ini diproyeksikan dan diwujudkan dalam keseharian kita. Kalimat talbiyah yang dikumandangkan berkali-kali selama berihram, semestinya mampu membangun akhlak setiap diri yang pernah haji atau umrah. Akhlak yang terbentuk bukan hanya menyangkut hubungan spiritual dengan sang Pencipta tapi juga dalam hubungan dengan sesama makhluk meliputi sikap terhadap sesama manusia, sikap terhadap binatang dan tanaman yang secara eksplisit  tersirat dalam larangan-larangan dalam ihram. Akhlak terhadap sesama manusia jelas ditegaskan yaitu disamping kesetaraan yang menjauhkan diri dari sikap sombong juga keharusan mengendalikan nafsu, dilarang berkata kasar, berbantah-bantahan yang tidak perlu  (bertengkar) dan berkata jorok (tidak senonoh). Betapa indahnya hidup ini jika ‘kondisi’ berihram ini dapat tercipta setiap saat.

HIKMAH III

TAWAF

Lingkaran Ilahi

 

Setelah berihram dari miqat, berangkatlah menuju Masjidil  Haram Mekah untuk mekaksanakan materi workshop berikutnya yaitu TAWAF. Dalam pengertian umum ‘Ibadah Tawaf’ adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dimulai dan berakhir di arah garis lurus dengan Hajar Aswad ( tempat batu hitam ) dengan posisi Baitullah disebelah kiri.

Tata cara pelaksanaan tawaf adalah sebagai berikut : berniat akan melakukan tawaf, lalu menuju ke garis coklat (sekarang diganti lampu hijau) tanda batas putaran tawaf yang letaknya searah Hajar Aswad. Menghadap ke Ka’bah dan ber-Istilam (mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad) dan memberi isyarat mengecupnya, sambil mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar.

Pelaksanaan TAWAF merupakan pelajaran penting dari sang Khalik kepada makhlukNya yaitu seolah ditunjukkan Sunnatullah atau hukum yang diberlakukanNya terhadap alam jagad raya, mulai partikel elementer level elektron sampai makrokosmos  level planet semua beredar berputar pada garis orbitnya. Bila kita simak tata cara pelaksanaan tawaf yang diawali dan diakhiri dengan menghadap ke Ka’bah dan mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad serta memberi isyarat mengecupnya, sambil mengucapkan Bismillahi Wallahu Akbar, mengisyaratkan bahwa kita lahir ke dunia berasal dariNya dan berakhir kembali kepadaNya  dan dalam rentang awal hingga akhir kehidupan, Allah SWT menggambarkan hubungan mesra penuh cinta kasih antara makhluk dan sang Khalik dengan 7x ber-Istilam(mengangkat tangan kanan ke arah hajar Aswad) dan memberi isyarat mengecupnya. Sungguh menakjubkan dan betapa indahnya, sejatinya kita hidup di dunia ini dimanapun kita berada dalam keadaan bertawaf karena semua partikel yang ada dalam tubuh kita bahkan bumi yang kita pijakpun  dalam keadaan bertawaf.

Ketika melakukan umrah wajib/haji, tawaf dilakukan dalam keadaan berihram sehingga larangan –larangan saat berihram tetap berlaku ketika tawaf. Saat tawaf banyak tantangan yang dihadapi, karena pada saat yang sama umat dari berbagai penjuru dunia melakukan hal yang sama sehingga diperlukan strategi, kesabaran dan kearifan agar dapat dilakukan dengan lancar. Strateginya adalah mengikuti arus yang benar tanpa memaksakan diri, mengisi peluang tempat kosong yang ada tanpa menyikut atau pun mendorong atau dengan kata lain tidak boleh egois. Bila kondisi ini diproyeksikan kedalam kehidupan keseharian kita,  betapa indahnya hidup ini karena  akhlak yang terbentuk dari orang-orang yang merasa bertawaf dan berihram serta terjaganya kemesraan cinta kasih bersama sang Khalik setiap saat. MaasyaAllah, hal ini perlu diikhtiarkan terus menerus  setiap saat. Semoga Allah SWT melimpahkan rakhmat bagi kita semua yang berikhtiar selalu dijalanNya. Amin.

Hikmah Haji: Renungan dan pengalaman pribadi

Posted: 26th June 2012 by nurhidayat in Islam
Tags: ,

Oleh: Uswatun Hasanah
PENGANTAR
Sebagaimana kita ketahui ibadah Haji merupakan rukun Islam kelima (setelah mengikrarkan dua kalimah syahadat, shalat, puasa dan menunaikan zakat). Jadi haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Hukum wajib disini bukan hanya sekedar dipahami sebagai ‘mendapat pahala jika dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan’ dalam pengertian yang sempit, tapi marilah kita kembangkan pemahaman ibadah yang diwajikan ini dari sisi pendidikan akhlak dibalik amaliah ritualnya. Tentang ‘pahala dan dosa, surga-neraka‘ sementara tidak kita pikirkan karena bukan ranah kita sebagai makhluk tapi kita pasrahkan sepenuhnya pada Allah sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Adil. Yang perlu kita pikirkan dan pahami adalah bahwa yang diwajibkan Allah kepada kita tentang rukun islam yang lima tidak lain adalah sebagai PAKET PENDIDIKAN (Modul Mata Kuliah Wajib) dari Allah sang Pencipta, Maha Guru kepada makhlukNYA sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
PAKET PENDIDIKAN (Rukun Islam) ini diberikan sang Maha Guru yang kasih sayangNya tanpa batas kepada kita makhlukNya (sang murid) dengan pesan-pesan penting dalam bentuk simbol-simbol dalam ritual ibadah demi kepentingan kita selama hidup di dunia dan akhirat yang baik. Kita sebagai murid harus selalu belajar tanpa henti memaknai dan memahami PAKET PENDIDIKAN ini seiring dengan perkembangan pemikiran kita agar limpahan kasih sayangNya dapat kita tangkap dan nikmati setiap saat. Selanjutnya pesan-pesan penting dariNya diikhtiarkan mewujud dan terproyeksikan dalam perbuatan keseharian kita dan limpahan kasih sayangNya yang tercurah ke kita mengalir ke sekitar dan akan terasakan indahnya hidup ini, MaasyaAllah.
Ibadah Haji adalah rukun Islam terakhir yang waktu dan tempat pelaksanaannya tertentu dan kebetulan jauh dari tempat tinggal kita, sehingga pengalaman dan pemahaman tentang ritual haji sangat terbatas setidaknya bagi diri pribadi saya sendiri. Menyadari keterbatasan ini dan meyakini bahwa Allah menghendaki ‘sesuatu’ lewat prosesi haji serta yang diwajibkan hanya sekali seumur hidup maka saya berburu buku untuk dapat menangkap pesan-pesan penting dalam ritual haji sebelum saya berangkat melaksanakannya. Dalam proses berburu inilah saya mudah dan sering menangis, mengagumi sang Maha Guru dalam mendidik makhlukNya dengan kesempurnaan yang tiada tara karena tidak mungkin saya ketahui dan rasakan tanpa saya pergi haji. Dari pengalaman ini saya merasakan betapa pentingnya bekal ilmu dan pemahaman makna simbolik ritual haji sebelum berangkat.
Pemahaman dan pengalaman pribadi yang terbatas inilah yang akan saya share kepada teman-teman.

Hikmah I
MIQAT
Batas Kehidupan (Waktu dan Ruang)
Dalam hidup berumah tangga, bagi saya pergi haji merupakan prioritas kedua setelah memiliki rumah tinggal. Kenapa demikian? Saya ingin mendahulukan kebutuhan yang pokok (hal yang diwajibkan) sedini mungkin agar segera menikmati hidup secara tenteram damai. Untuk mewujudkan ini perlu perjuangan karena bagi kami ongkos haji tidak sedikit dan juga ada yang mengganjal dalam pikiran terkait dengan taqdir sebagai wanita yaitu mensturasi dan pengasuhan anak selama ditinggalkan. Karena saya ingin kesempurnaan dalam melaksanakan ibadah dan alamiah dalam memenuhi panggilaNya. Alhamdulillah, Dia yang Maha Pemberi Petunjuk melalui berbagai tausiah dan bacaan-bacaan, mengantarkan pada keyakinan bahwa apa yang ditaqdirkan kepada saya sebagai wanita maupun ibu bukanlah penghalang karena sejatinya sang Maha Guru akan memberikan pelajaran kepada muridNya sesuai kebutuhan dan kemampuannya dan Dialah yang Maha Tahu. Atas ijinNya saya mendaftar pada bulan Februari 2000 dan berangkat awal 2001. Ada hal unik dan luar biasa sebenarnya pada proses mendaftar hingga menjelang keberangkatan, tapi tidak perlu diceritakan disini supaya tidak terlalu panjang dan bersifat sangat pribadi.
Sebelum berangkat haji muncul pikiran nakal dalam diri saya sebagai murid:’apa sih sebetulnya yang ingin disampaikanNya lewat prosesi haji?. Setelah pergi haji, barulah saya mendapatkan jawaban bahwa : Haji adalah ‘Workshop Agung’ yang dirancang oleh Allah SWT berisi rangkuman amalan yang sarat dengan simbol-simbol yang harus diproyeksikan ke dalam kehidupan untuk mencapai insan muttaqin.
Marilah kita simak satu persatu materi ‘Workshop Agung’ ini dan sebelumnya , agar materi workshop dapat dicerna, dipahami dan dinikmati dengan baik maka sebelum mendaftar haji sebaiknya luruskan dulu motivasi berhaji, yaitu tulus karena Allah serta komitmen yang kuat untuk perbaikan diri.
Materi workshop tak lain adalah rukun haji itu sendiri yang meliputi :
I MIQAT
Miqat, secara harfiah berarti batas. Dalam prosesi haji, miqat dibagi 2 yaitu miqat Zamani ( batas waktu yaitu syawal – dzulhijjah) dan miqat Makani( batas tanah atau tempat. Bir Ali dari arah Madinah dan Yalamlam, sebuah bukit di sebelah selatan Mekah, merupakan miqat bagi jama’ah yang datang dari arah Yaman dan Asia serta tempat-tempat miqat yang lain yang bisa dijumpai dibuku manasik).
Pemahaman makna miqat dalam prosesi haji ini sangat menarik. Sejak awal mendaftar haji, setiap jemaah telah mempersiapkan diri dalam rangka memenuhi panggilan Allah. DitaqdirkanNya kita hidup didunia ini sejatinya adalah perjalanan menuju panggilanNya, yang dibatasi oleh waktu yaitu sebatas umur hidup kita dan ruang sebatas bumi kita berpijak. Dalam batasan waktu dan ruang inilah Allah memberi guideline, pedoman hidup agar dalam menapaki waktu dan tempat, hidup tidak sia-sia dan sesat. Guideline itu tergambar dalam prosesi haji yang akan dibahas berikutnya.

Bersambung…………….. (biar tidak terlalu panjang)

etika lingkungan

Posted: 18th June 2012 by nurhidayat in etika profesi

Kelestarian lingkungan sangat tergantung pada sikap manusia. Manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan dilandasi agama merupakan pemimpin dunia untuk tetap menjaga lingkungan.
a. Bagaimana konsep pembangunan berkelanjutan tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan? Berikan contoh untukmenjelaskan hal tersebut
b. Adakah ayat/pasal/surah dalam kitab suci agama anda yang menunjukkan pentingnya lingkungan bagi manusia? Tunjukkan bagian dari kitab suci agama anda yang menyatakan hal tersebut dan bagaimana penjelasannya?

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi” (QS Al-A’laa:1)
Allah adalah maha tinggi dalam segala sesuatu. Baik kedudukan ataupun keberdaaanNya. Allah bersemayam di atas “Arsy juga menunjukkan kedudukan Allah yang maha tinggi. Hal ini disebabkan semua sifat-sifat Allah yang Agung yang tidak dimiliki oleh semua makhlukNya. Maha Tinggi Allah ini dapat dilihat dari ayat-ayat berikutnya yang menunjukkan alasan kenapa Allah memiliki sifat Maha Tinggi:

  • Ayat 2 menyebutkan “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)”. Kemampuan Allah menciptakan segala apa yang ada di dunia dan menyempurnakannya adalah sesuatu yang tidak dapat ditandingi oleh makhlukNya termasuk manusia. Allah menciptakan langit dan bumi, yang hingga kini manusia belum dapat mengetahui seberapa luasnya. Bagaimana sesuatu yang begitu luas dapat terjadi dengan sendirinya dengan sesuatu keberaturan yang sangat hebat. Dengan ciptaaannya ini manusia dapat menentukan waktu.
  • Ayat 3 menyebutkan “dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. Setelah Allah menciptakan dan menyempurnakan, maka ciptaanNya tadi berada dalam kadar atau ukuran yang telah ditentukan tidaklebih dan tidak kurang keteraturan yang bersifat dinamis. Manusia kini mengenal hukum kekekalan massa, hukum kekekalan energy dan sebagainya. Selain kesempurnaan dalam bentuk dan ukuran juga diberikannya petunjuk. Semua ciptaan Allah ada dalam petunjukNya. Benda-benda yang kita sebut sebagai benda mati ada dalam sunatullah begitu juga benda hidup. Hanya orang-orang yang melampaui bataslah yang mencoba keluar dari petunjukkan atau mencoba untuk melawan petunjuknya. Ketika manusia diberi pengetahuan tentang yang baik dan buruk, banyak diantaranya yang justru mencoba untuk melawan. Dengan mengatasnamakan kebebasan mereka berpakaian dengan mengumbar auratnya seakan itu adalah sebuah kebebasan, meskipun mereka tahu itu telah keluar dari adab yang ada disekitarnya. Mereka merasa sebagai orang yang hebat ketika dapat berbuat tidak baik. Itulah contoh orang-orang yang menentang Allah secara terang-terangan. Hebatnya lagi banyak orang yang menyebut dirinya tokoh agama sering tidak merasa aneh, mereka mengatakan itu hak mereka untuk menjadi baik ataukah tidak. Sifat tokoh agama seperti ini sebenarnya bertentangan dengan ayat 9 pada surat ini pula: “oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”. Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kita harus memberi peringatan bukan membiarkan. Setiap peringatan akan ada manfaatnya. Apabila tidak dapat memberikan pengaruh pada sang tokoh setidaknya para penganutnya mulai berpikir, bahwa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kaidah yang ada di masyarakat dan ia hanyalah pengikut. Orang yang ia ikuti saja dibenci apalagi dia yang ada langsung di masyarakat namun tidak memiliki kekuasaan.

Kesadaran yang ditumbuhkan melalui peringatan adalah jalan yang baik. Maka akankah kita menjadi orang-orang yang apatis? Orang yang tidak mau memberi peringatan? Orang yang membiarkan orang lain tersesat? Lalu apakah kita masih menyebut diri kita sebagai khalifah dimuka bumi, jika kita hanya memikirkan diri sendiri? Marilah kita bersama-sama menanamkan pada diri sendiri dan orang sekitar kita tentang hakekat kita sebagai makhluk ciptaanNya sehingga sudah sewajarnya kita mengikuti apa yang diajarkan melalui agama bukan malah menentangnya.
Semoga hati ini diberi keimanan yang kuat sehingga mampu membentengi diri dari segala kebodohan yang menjadikan kita rendah serendah-rendahnya, jauh dari kadar yang ditentukan Allah.
Mohon maaf jika ada khilaf, karena ini bukanlah tafsir namun sebuah perenungan tentang Maha Tingginya Allah yang dengan sifat tersebut Allah meninggikan derajat umatNya yang mau memberi peringatan.

Puasa di Bulan Rajab

Posted: 22nd May 2012 by nurhidayat in puasa
Tags: ,

Tadi malam menjelang tanggal 1 Rajab  saya mendapat sms dari sahabat yang menanyakan tentang puasa Rajab itu boleh tidak dan apakah seperti Ramadhan dan seterusnya. Sebuah pertanyaan yang akan selalu muncul apabila bulan Rajab hadir, pertanyaan lainnya terkait bulan Rajab selain seputra puasa adalah shalat Raghaib yang didahului puasa sunah kamis pertama, kemudian atirah yaitu penyembelihan binatang dan peringatan Isra’ Mi’raj. Pada kesempatan ini saya hanya akan menulis tentang pertanyaan sahabat saya yaitu perihal puasa.

Sebelum membicarakan puasa Rajab sebaiknya kita nukilkan terlebih dahulu sebuah hadits shahih riwayat Muslim:”Dari Aisyah r.a. dia berkata: Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh, kecuali pada Ramadhan”.

Hadits tersebut di atas menunjukkan pada kita bahwa puasa sebulan penuh hanya dilakukan pada bulan Ramadhan bukan di bulan-bulan yang lain termasuk empat bulan haram. Apa saja bulan haram itu? Berikut hadits tentang bulan haram: Dari Abu Bakrah r.a., dari Nabi SAW beliau bersabda: “Zaman ini akan terus berlaluseperti saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan. Empat berturut-turut yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan Mudhar (nama suatu kabilah) yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban….” (HR Bukhari).

Hadits riwayat Bukhari dan juga Muslim adalah rujukan utama para ulama karena keshahihannya sedangkan dari riwayat yang lain sering tercampur dengan beberapa hadits yang tidak shahih bahkan kadang dhoif. Lalu adakah hadits berkenaan dengan puasa dibulan Rajab? Berikut beberapa hadits tentang hal tersebut:

  1. Dari Utsman bin HakimAl-Anshari, dia berkata: “Saya bertanya kepada Sa’id bin  Jubair tentang puasa Rajab dan pada saat itu kami berada di bulan rajab. Dia berkata: “Saya mendengar Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah SAW berpuasa hingga kami katakan beliau tidak berbuka, dan berbuka hingga kamikatakan beliau tidak berpuasa” (HR Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud).
  2. Dari Ibnu Abbas r.a.: “bahwasanya Rasulullah SAW melarang puasa bulan Rajab” (HR Ibnu Majah). Hadits ini disepakati dhaif karena didalamnya terdapat Daud bin Atha’ Al-Madani. Akhmad bin Hambal berkata: “tidak boleh men-tahrij hadits dari Daud bin Atha’. Al-Bukhari mengatakan ini hadits mungkar.
  3. “Sesengguhnya di syurga ada sungai yang bernama Rajab, airnya lebih jernih dari susu dan lebih manis dari madu, siapa yang berpuasa sehari dibulan Rajab, Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut”   Ibnu Hajar berkata bahwa hadits ini dhaif karena didalam sanadnya banyak dhaif sehingga tidak dapat digunakan sebagai hukum.
  4. “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa setelah Ramadhan,kecuali bulan Rajab dan Sya’ban”. Ibnu Hajar berkata, “Al-Baihaqi berkata: ini adalah hadits mungkar karena didalamnya ada Yusuf bin Athiyah, seorang yang sangat lemah”.
  5. Hadits Maudhu’ contohnya “Bulan Rajab adalah bulan yang hening, siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab dengan penuh keimanan dan introspeksi, akan mendapatkan keridhaan Allah terbesar”.
  6. Hadits Maudhu’ lainnya: “Barangsiapa berpuasa tiga hari dalam bulan Rajab, Allah akan mencatatnya seperti puasa sebulan. Dan barangsiapa yan berpuasa tujuh hari, Allah akan menutup darinya tujuh pintu neraka…..”

Dari hadits-hadits tersebut di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan:

  1. Puasa satu bulan penuh adalah hanya pada bulan Ramadhan bukan dibulan-bulan lainnya.
  2. Tidak dilarang berpuasa sunah di bulan apapun kecuali pada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa
  3. Puasa sunah ada di setiap bulan tidak hanya bulan Rajab.
  4. Puasa kamis pertama di bulan Rajab juga sunah kecuali dikhususkan karena akan melaksanakan Shalat raghaib dan berbukanya setelah shalat maghrib karena menyalahi saat berbuka puasa yang disunnahkan.

Semoga tulisan singkat ini menambah pemahaman kita tentang puasa sunah. Saya tidak membicarakan apa itu bulan Rajab, kenapa diiistemawakan karena saya memang hanya menjawab pertanyaan dari sahabat saya.

Mohon maaf jika ada salah dalam tutur kata dan penyampain. Mohon saran dan kritik untuk kelengkapan dan kebenaran tentang hadits dalam tulisan ini. Semoga menambah keimanan kita. Amiin.

Menilai diri sendiri

Posted: 13th May 2012 by nurhidayat in etika profesi
Tags: ,

1. Menilai diri sendiri bukanlah hal yg mudah
2. Seringkali kita membangun pertahanan diri untuk melindungi ego
3. Untuk menilai diri dibutuhkan kesanggupan berpikir logis, pikiran terbuka dan keberanian
4. Saat kita lahir ke dunia, kita tidak berdaya dan tergantung orang lain
5. Butuh belajar dari orang lain
6. Butuh pujian, cinta dan perlindungan
7. Membutuhkan orang lain untuk mencari dan menyampaikan pendapat
8. Membutuhkan teman untuk berbagi perasaan
9. Membutuhkan simpati orang lain dan memperoleh jaminan tentang harga dirinya
10. Kadang menipu diri sendiri demi menjaga citra diri
11. Kadang melakukan perbuatan yang tidak dipikirkan secara matang terlebih dahulu
12. Kadang memberikan alasan untuk membenarkan perbuatannya
13. Memungkiri perbuatannya yang tidak benar dengan menyalahkan orang lain

Etika Bisnis dan tanggung Jawab Sosial

Posted: 25th April 2012 by nurhidayat in etika profesi
Tags: ,

Etika adalah aturan yang membantu kita membedakan antara benar dan salah. Mereka mendorong kita untuk melakukan hal yang benar.

Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan etika-individu kepercayaan dan standar sosial tentang apa yang benar dan baik.

Etika bisnis didasarkan pada etika masyarakat dan orang-orang yang bekerja untuk dan membeli dari mereka.

Sebuah dilema etis adalah masalah moral dengan pilihan antara potensi benar dan salah. Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan adalah:

§ Siapa yang akan dibantu oleh apa yang Anda lakukan?
§ Siapa yang akan terluka oleh apa yang Anda lakukan?
§ Apa manfaat dan masalah keputusan seperti itu?
§ Apakah keputusan tersebut bertahan dalam waktu tertentu?
Apa Yang Terjadi Ketika Orang Berperilaku Tidak Etis?
Ketika seorang individu bertindak tidak etis, perilakunya kemungkinan besar akan merugikan orang lain. Individu juga bisa dikirim ke penjara karena nya atau tindakannya. Masalah etika utama meliputi penipuan, skandal akuntansi, dsb
Skandal Akuntansi
Sebuah skandal akuntansi terjadi ketika akuntan atau eksekutif senior mengubah catatan akuntansi untuk keuntungan pribadi.

Informasi akuntansi digunakan di dalam dan luar bisnis untuk membuat keputusan. Ketika penyimpangan akuntansi yang terungkap, seorang akuntan forensik menyelidiki dokumen hukum dan keuangan untuk menemukan adanya bukti perusakan.

Penggelapan, sejenis penipuan akuntansi, yang terjadi ketika seorang akuntan atau eksekutif senior menciptakan account palsu dan pengalihan uang ke mereka untuk keuntungan pribadi.

Corporate Social Responsibility

Sebuah bisnis menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan (CRS) melalui nilai-nilai, etika, dan kontribusi itu untuk masyarakat. CRS didorong oleh keinginan untuk melindungi para pelanggan dan memperlakukan karyawan serta pemegang saham.

CSR Principles

Prinsip CSR mendukung para karyawan dan konsumen dengan:

•menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat
•kebijakan tenaga kerja yang adil
•Perlindungan lingkungan
•jujur ​​dalam iklan
•menghindari diskriminasi harga
•amal

Antidiscrimination Issues

Diskriminasi,  menyangkal/menyingkirkan individu yang berkualitas berdasarkan agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau cacat fisik.

Diskriminasi gender memperlakukan karyawan secara berbeda berdasarkan jenis kelamin mereka (laki-laki atau perempuan).

Gangguan

Banyak perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur untuk menangani pelecehan: perilaku yang mengancam, mengganggu, atau membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Fair Trade

Perdagangan yang adil merupakan praktek sukarela untuk membantu produsen di negara berkembang memotong tengkulak mahal sehingga mereka dapat menjual barang mereka di negara lain untuk keuntungan yang adil.

perdagangan yang adil dimulai dengan kemitraan antara petani di negara-negara berkembang dan organisasi bantuan (bottom up) untuk membantu mereka menjangkau pasar di Eropa dan Amerika Utara (top down).

Perdagangan Etis berarti menggunakan perdagangan untuk memastikan bahwa hak-hak dasar buruh karyawan di negara lain dihormati.

Al Qur’an adalah petunjuk bagi yang bertaqwa

Posted: 13th April 2012 by nurhidayat in Islam, shalat
Tags: , , ,

Selama ini kita selalu mengatakan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia baik yang beriman ataupun yang tidak. Hal ini sering dikaitkan oleh keyakinan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang dibawa oleh Nabi akhir Jaman yaitu Rasulullah SAW. Benarkah demikian?

Dalam Al Qur’an mungkin kita menemukan banyak penjelasan dan saya juga bukan ahli tafsir. Hanya saya akan lebih memfokuskan pengertian awal yaitu sebagaimana tertera dalam Al Qur’an Al Baqarah ayat 2: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Disini kita sebagai umat Islam sudah semestinya tidak ragu sedikitpun terhadap kandungan Al Qur’an dan menjadikannya sebagi petunjuk. Sayangnya kadang kita lebih sering menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan atau hafalan untuk memperoleh pahala dan bukan menjadikannya petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita banyak mengandalkan kemampuan diri atau bantuan orang lain. Kita lebih kagum pada kata-kata para motivator dibandingkan dengan apa yang teedapat dalama Al Qur’an. Dan hanya orang – orang yang bertakwalah yang menggunakan Al Qur’an sebagai petunjuk. Siapa orang yang bertakwa itu? Al Qur’an menyebutkan dalam banyak ayat. Namun setidaknya dapat kita lihat di ayat berikutnya: (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Al Baqarah:3) .

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib. Suatu halyang sering diabaikan oleh orang-orang yang merasa dirinya adalah orang berpengetahuan atau sering menyebut dirinya orang cerdik pandai. Allah adalah hal yang gaib begitu juga dengan apa yang ditakdirkan kepada kita. Hanya mereka yang menggunakan hatinya yang mampu mendalami dan meyakini bahwa apa yang ada adalah bagian dari hal yang gaib. Ini memiliki implikasi bahwa orang yang bertakwa selalu penuh harap dan do’a. ia tidakmenjadi sombong terhadap apa yang ia peroleh karena ia yakin semua adalah atas kehenda-Nya. Oleh sebab itu sangatlah wajar kalau cirri orang beriman yang kedua adalah mereka yang mendirikan shalat.

Orang mukmin yang mendirikan shalat pada hakekatnya adalah mereka yang mempercayai hal yang gaib dan menjadikan Al Qur’an sebagi petunjuknya. Mendirikan shalat hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar yakin. Mereka tidak sekedar menjalankan ibadah shalat semata tapi menjadikan shalat sebagai langkah hidupnya. Ia benar-benar melangkah dari apa yang ia do’akan dalam shalat atau sesudahnya kemudian melakukan kehidupan. Ia menyempurnakan shalatnya dengan shalat sunah. Sehingga alangkah anehnya jika kita menyebut diri sebagai orang bertakwa tapi lalai dalam shalat termasuk shalat sunah di dalamnya. Hanya orang-orangyang berimanlah yang mampu melakukan shalat sunah. Banyak dari kita tidak melaksanakan shalat sunah dengan anggapan itukan bukan wajib jadi kita tidak harus melaksanakan. Sama dengan ketika ditegur bahwa merokok itu tidak baik, maka ia bilang kan merokok itu makruh kenapa saya harus meninggalkan kan bukan haram?

Tingkatan kita dalam bertakwa menunjukkan sejauh mana kita melaksanakan yang sunah dan meninggalkan yang makruh. Tingkat yang rendah adalah yang hanya menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram dengan tidak melaksanakan yang sunah. Semoga kita tidak lebih rendah dari itu.

Setelah ada kesadaran bathin sehingga mampu mendirikan shalat maka langkah tersebut akan dicerminkan dalam keikhlasan dalam bersedekah dari rizki yang kita terima. Rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya menjadikan kita suka bersedekah karena kita yakin semua adalah dari Allah dan dalam harta kita ada bagian dari orang miskin. Itulah bukti kita sebagai insan yang bertakwa.

Maaf bila ada yang tidak berkenan dan sekali lagi ini bukanlah tafsir tapi pencerahan diri untuk menjadi lebih baik dengan memahami dan mengamalkan ayat-ayat dari Allah SWT yang tertulis dalam Al Qur’an.

wassalam

definitions

Posted: 21st March 2012 by nurhidayat in etika profesi
Tags: , ,

Ethics: The philosophical study of what is right or wrong in human conduct and what rules or principles should govern it. Hence the term is singular. This is often subdivided into meta-ethics, applied ethics and professional ethics.
Meta-ethics: The systematic study of the nature of ethics. This looks into issues such as how an ethical judgement can be justified and the possible theoretical underpinning of ethical reflection and practice.
Applied Ethics: The application of ethics in a particular area of practice, e.g. business or bio-ethics.
Professional Ethics: The ethical identity, codes and practices of particular professions, such as the professions followed by nurses, doctors, lawyers or engineers.
Morality: Morality often refers to standards of moral conduct – right behaviour. In the history of philosophy there have been many attempts to differentiate the concept from ethics. However, it is most often used interchangeably with the term ‘ethics’, which is how we will use it.

Engineering Ethics: Engineering ethics is defined in the two ways:
1. The study of moral issues and decisions confronting individuals and organizations involved in engineering.
2. The study of related questions about moral conduct, character and relationship involved in technical development

Reference

Simon Robinson, Ross Dixon, Christopher Preece and Krisen Moodley. 2007. Engineering, Business and Professional Ethics. Elsevier. Oxford

Hakim Singkong

Posted: 7th March 2012 by nurhidayat in Uncategorized
Tags: , ,

SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARNA KELAPARAN, HAKIM MENANGIS SAAT MENJATUHKAN VONIS !!

diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar,…. namun manajer PT A**** K**** ( B**** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjd contoh bg warga… lainnya.

Hakim Marzuki menghela nafas……., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, ‘maafkan saya’, ktnya sambil memandang nenek itu,. ‘saya tak dpt membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jd anda hrs dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tdk mampu bayar maka anda hrs msk penjara 2,5 tahun, spt tuntutan jaksa PU’.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, smtr hakim Marzuki mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang 1jt rupiah ke topi toganya serta berkata kpd hadirin. ” Saya atas nama pengadilan, jg menjatuhkan denda kpd tiap org yg hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yg membiarkan seseorg kelaparan sampai hrs mencuri utk memberi mkn cucunya, sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kpd terdakwa .”

Sampai palu diketuk dan hakim marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dgn mengantongi uang 3,5jt rupiah, termsk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT A**** K**** yg tersipu malu krn telah menuntutnya. Sungguh sayang kisahnya luput dari pers. Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yg bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media tuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain utk bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yg berhati mulia