Posts Tagged ‘shalat’

Shalat, zakat dan taubah


2016
05.09

”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)

Surah At Taubah 11 ini menandaskan pada kita, siapakah saudara seagama kita sebenarnya?

saudara seiman adalah mereka yang mengerjakan shalat dan zakat

shalat merupakan wujud kehambaan kita pada Allah sedangkan zakat adalah wujud kecintaan kita karena Allah sehingga kita dengan penuh keimanan membagikan sebagaian rizki kita pada sesama yang membutuhkan.

kalau ada yang menyatakan Islam tetapi tidak shalat maka jelas ia bukanlah saudara begitu juga mereka yang shalat namun tak mau berzakat padahal mampumaka bukan pula saudara kita

mereka akan menjadi saudara kita jika mereka mau bertaubat atas kelalaiannya dana Allah maha menerima taubat

marilah kita berkuat persaudaraan

Shalat dan Menabung


2012
12.17

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat muslim yang saya kasihi

Shalat adalah kewajiban yang kita laksanakan tiap hari sebagai wujud keimanan kita pada Allah SWT. Jika baik shalat kita maka baik pula seluruh amal kita. Perintah shalat dalam Al Qur’an jarang berdiri sendiri namun acapkali diikuti dengan indah yang lain, seperti apa yang dapat kit abaca pada firman Allah SWT berikut:

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS Al baqarah 2 – 3)”

Shalat merupakan rukun iman yang utama setelah dua kalimat syahadat. Oleh sebab itu shalat merupakan amalan utama dan sebagai bukti ketaqwaan seseorang. Seorang dikatan bertaqwa kepada Allah apabila ia mendirikan shalat. Seseorang dikatakan bertaqwa apabila ia meyakini bahwa Al Qur’an adalah petunjuk dari Allah dan tidak ada keraguan padanya serta beriman kepada yang ghaib.

Dalam hal ini shalat tidak berdiri sendiri, sebagai bukti kita beriman dan mendirikan shalat maka kita haruslah menafkahkan sebagian rizqi yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Disini nampak bahwa Shalat sebagai wujud taqwa kita kepada Allah akan menjadi benar ketika kita juga bersosialisasi  ke lingkungan. Menafkahkan sebagian rizqi artinya kita peduli pada lingkungan, apakah itu kepada keluarga yang menjadi tanggung jawab kita atapun kepada sekitar kita. Dalam agama kita mengenal adanya zakat, infaq dan shadaqoh.

Seseorang dikatakan medirikan shalat ketika yang bersangkutan melaksanakannya karena ketaqwaannya sehingga melaksanakan dengan sungguh-sungguh sesuai syariat yang diajarkan. Shalat haruslah memenuhi sunnah bukan sesuai keinginan kita. Shalat yang dilaksanakan tanpa ajaran yang benar hanya menunjukkan pembangkangan kita pada ajaran Rasulullah. Oleh sebab itu, agar kita dalam shalat benar-benar sebagai wujud taqwa maka sudh selayaknya kita mempelajari tata cara shalat yang benar yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Apakah kita tahu sumber bacaan kita mulai dari niat hingga salam? Apakah sumber tersebut dari hadits? Ataukah hanya kata Ustadz? Marilah mulaisaat ini kita mencoba mencari sumber yang benar dari setiap gerakan shalat kita.

Shalat dalam ayat ini diiringin dengan menafkahkan rizqi. Ini berarti seseorang yang bertaqwa kepada Allah SWT adalah seorang yang dermawan, seorang yang peduli pada lingkungannya. Seorang tidaklah sempurna taqwanya hanya dengan shalat saja jika ia tidak memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah bagi yang menjadi tanggung jawabnya, tidak peduli pada lingkungannnya. Tidaklah heran jika kadang muncul anekdot “buat apa shalat kalau pelit”. Sungguh itu bukanlah sifat orang yang bertaqwa.

Menafkah sebagian rizqi mengandung makna pula untuk tidak boros. Seseorang yang beriman haruslah menabung. Tabungan dapat digunakan untuk berbagai hal. Tabungan bukanlah upaya menentang takdir tetapi justru memenuhi perintah Allah untuk menafkahkan sebagian rizqi bukan seluruhnya. Dalam hidup, kadangkala ada masa sulit dan ada masa mudah disinilah Allah memberikan solusi agar disaat mudah kita tidak boros dengan cara menyimpan dan pada saat sulit kita tidak menjadi kekurangan dan tetap dapat beramal?

Jadi?

Marilah kita peduli dan selalu beramal dengan tetap berhemat dengan hidup yang wajar tidak berlebih-lebihan sehingga keselarasan hidup akan kita peroleh dan kita akan selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Demikian apa yang menjadi inspirasi bagiku dari ayat yang sering kita baca ini. Mohon maaf jika tulisan ini tidak sesuai dengan tafsir yang semestinya karena ini memang bukan tafsir tetapi mengambil ayat Al Qur’an untuk memotivasi diri agar menjadi insane yang peduli pada sesama.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh

Nur Hidayat

Al Qur’an adalah petunjuk bagi yang bertaqwa


2012
04.13

Selama ini kita selalu mengatakan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia baik yang beriman ataupun yang tidak. Hal ini sering dikaitkan oleh keyakinan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang dibawa oleh Nabi akhir Jaman yaitu Rasulullah SAW. Benarkah demikian?

Dalam Al Qur’an mungkin kita menemukan banyak penjelasan dan saya juga bukan ahli tafsir. Hanya saya akan lebih memfokuskan pengertian awal yaitu sebagaimana tertera dalam Al Qur’an Al Baqarah ayat 2: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Disini kita sebagai umat Islam sudah semestinya tidak ragu sedikitpun terhadap kandungan Al Qur’an dan menjadikannya sebagi petunjuk. Sayangnya kadang kita lebih sering menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan atau hafalan untuk memperoleh pahala dan bukan menjadikannya petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita banyak mengandalkan kemampuan diri atau bantuan orang lain. Kita lebih kagum pada kata-kata para motivator dibandingkan dengan apa yang teedapat dalama Al Qur’an. Dan hanya orang – orang yang bertakwalah yang menggunakan Al Qur’an sebagai petunjuk. Siapa orang yang bertakwa itu? Al Qur’an menyebutkan dalam banyak ayat. Namun setidaknya dapat kita lihat di ayat berikutnya: (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Al Baqarah:3) .

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib. Suatu halyang sering diabaikan oleh orang-orang yang merasa dirinya adalah orang berpengetahuan atau sering menyebut dirinya orang cerdik pandai. Allah adalah hal yang gaib begitu juga dengan apa yang ditakdirkan kepada kita. Hanya mereka yang menggunakan hatinya yang mampu mendalami dan meyakini bahwa apa yang ada adalah bagian dari hal yang gaib. Ini memiliki implikasi bahwa orang yang bertakwa selalu penuh harap dan do’a. ia tidakmenjadi sombong terhadap apa yang ia peroleh karena ia yakin semua adalah atas kehenda-Nya. Oleh sebab itu sangatlah wajar kalau cirri orang beriman yang kedua adalah mereka yang mendirikan shalat.

Orang mukmin yang mendirikan shalat pada hakekatnya adalah mereka yang mempercayai hal yang gaib dan menjadikan Al Qur’an sebagi petunjuknya. Mendirikan shalat hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar yakin. Mereka tidak sekedar menjalankan ibadah shalat semata tapi menjadikan shalat sebagai langkah hidupnya. Ia benar-benar melangkah dari apa yang ia do’akan dalam shalat atau sesudahnya kemudian melakukan kehidupan. Ia menyempurnakan shalatnya dengan shalat sunah. Sehingga alangkah anehnya jika kita menyebut diri sebagai orang bertakwa tapi lalai dalam shalat termasuk shalat sunah di dalamnya. Hanya orang-orangyang berimanlah yang mampu melakukan shalat sunah. Banyak dari kita tidak melaksanakan shalat sunah dengan anggapan itukan bukan wajib jadi kita tidak harus melaksanakan. Sama dengan ketika ditegur bahwa merokok itu tidak baik, maka ia bilang kan merokok itu makruh kenapa saya harus meninggalkan kan bukan haram?

Tingkatan kita dalam bertakwa menunjukkan sejauh mana kita melaksanakan yang sunah dan meninggalkan yang makruh. Tingkat yang rendah adalah yang hanya menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram dengan tidak melaksanakan yang sunah. Semoga kita tidak lebih rendah dari itu.

Setelah ada kesadaran bathin sehingga mampu mendirikan shalat maka langkah tersebut akan dicerminkan dalam keikhlasan dalam bersedekah dari rizki yang kita terima. Rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya menjadikan kita suka bersedekah karena kita yakin semua adalah dari Allah dan dalam harta kita ada bagian dari orang miskin. Itulah bukti kita sebagai insan yang bertakwa.

Maaf bila ada yang tidak berkenan dan sekali lagi ini bukanlah tafsir tapi pencerahan diri untuk menjadi lebih baik dengan memahami dan mengamalkan ayat-ayat dari Allah SWT yang tertulis dalam Al Qur’an.

wassalam